Tifa

Imajinasi tentang Kartini

Ahad, 16 April 2017 16:00 WIB Penulis:

MI/ABDILLAH M MARZUQI

RA Kartini tidak sedang membaca buku. Ia juga tidak sedang menulis surat. Tidak pula sedang mengajar. Sebaliknya, di hadapan Kartini tampak beberapa beberapa sandal berhak tinggi.

Mungkinkah Kartini telah berubah menjadi wanita doyan belanja? Mungkinkah juga wanita pejuang dan pelopor emansipasi itu justru terseret arus dari gugus kebiasaan yang alih-alih berbeda dengan narasi besar sejarah tentang Kartini?

Pertanyaan itulah yang mungkin muncul ketika menikamti karya Triyadi Guntur Wiratmo berjudul Untitled: Panggil Aku Fashionista Saja (160x120cm) dalam pameran bertajuk Between The Line. Pameran ini menghadirkan 15 karya seni (mix media) yang terdiri dari karya seri perangko dan seri rajut yang telah menjadi ciri khas Guntur. Pameran yang dikuratori Rizki A Zaelani ini digelar di Galeri Nasional Indonesia pada 11-23 April 2017.

Salah satu ciri khas dalam setiap karyanya, Guntur kerap menyematkan gambar wajah yang terbingkai dalam sebuah prangko lalu melanjutkan gestur tubuh serta ditambah dengan latar. Tak hanya Kartini, lukisan potret karya Guntur yang lain juga menampakkan beberapa sosok besar, seperti Che Guevara, Karl Marx, Chairil Anwar, Mao Zedong, atau Nyonya Meneer.

Mereka tidak digambarkan sebagaimana kebiasaan dalam narasi sejarah, tetapi sebaliknya mereka dinampakkan dengan gestur tubuh khusus bahkan dengan sikap tubuh penuh makna dan latar yang kekinian.

Sejumlah tokoh itu disandingkan dengan budaya populer. Semisal Karl Marx, digambarkan akrab dengan Mao Zedong, atas dasar ideologi yang sama. Kartini digambarkan sebagai ibu pendidikan, dengan rajutan burung merpati yang memperkuat ilustrasi tersebut. Burung merpati sebagai simbol yang dipakai sejak zaman Yunani kuno, sebagai simbol harapan. Sosok Chairil Anwar yang disatukan dengan salah satu puisi karyanya.

Guntur mencoba untuk menghadirkan simbol, kejadian, dan tempat historikal serta menyisipkan tokoh pergerakan dunia sebagai media untuk mengkritik sejarah dan sosial-politik yang dikaitkan dengan pemahaman budaya khususnya budaya populer dan keseharian masa kini. Menurut Rizki, sikap-sikap itu bahkan bisa menggeser persepsi pengenalan seseorang tentang para tokoh. Tokoh-tokoh itu seolah berlawanan dengan yang biasa dikisahkan dalam narasi sejarah umum.

Itu menjadi kunci untuk pahaman tajuk pameran Between The Line. Bukan hanya bermakna sebagai sesuatu yang tersirat, melainkan juga sebagai undangan untuk menikmati yang tersurat lewat ketertiban dan harmoni garis pada karya Guntur atau sebaliknya.
Menurut kurator pameran, Rizki A Zaelani, lukisan-lukisan Guntur memiliki kecenderungan yang menekankan kekuatan gambar. Hal itu lalu ditambah dengan cara pengerjaan lain, seperti teknik melukis serta teknik sulaman benang. Penggabungan teknik-teknik tersebut merupakan suatu cara untuk menunjukkan kontras gambar dengan kekuatan garis-garis memiliki peran penting. Sekaligus untuk memasukkan unsur maskulin dan feminim dalam karyanya.

Kontradiktif

Pada karya seri Perangko, Guntur menyajikan dua visual yang kontradiktif dalam sebuah kanvas. Tokoh yang disematkan dalam prangko ialah tokoh yang terkenal akan ideologinya, sedang latar di belakang prangko digambarkan sebagai kondisi yang berlawanan dengan ideologi tersebut. Sementara pada karya seri rajut, Guntur lebih menekankan pesan akan ideologi atas tokoh yang ia gambarkan di karya-karyanya.

Karya Guntur langsung terasa komunikatif dan mengundang pandangan seseorang untuk berdialog tentang berbagai situasi sosial-budaya masa kini. Meski seperti berkisah, karya-karya itu tetap tidak memiliki kepastian makna. Guntur justru mengundang respons tiap orang yang menikmatinya agar turut meraih berbagai makna yang mungkin muncul darinya. Ia seakan mempersilakan setiap orang untuk menemukan dan menikmati kesimpulannya sendiri.

Menurut Rizki, karya-karya Guntur tidak hanya tentang persoalan situasi yang tengah mengepung kehidupan saat ini, seperti terkait nasionalisme, konsumerisme, atau kesejahteraan. Lebih jauh, Guntur menempatkan potensi ekspresi seni di antara persepsi pemahaman seseorang dan kekuatan gambar, yakni interpretasi.
Seolah saling memperteguh. Guntur juga mengungkap hal yang sama. Ia membebaskan pemaknaan karya. "Imajinasi itu benar setiap orang, menurut referensi yang dia punya. Justru itu yang saya inginkan. Setiap orang itu punya kebenarannya sendiri-sendiri," ujarnya. Abdillah M Marzuqi/M-2

Komentar