Tifa

Seni Tradisi Unjuk Gigi

Ahad, 16 April 2017 15:00 WIB Penulis: Abdillah M marzuqi

ANTARA/MUHAMMAD ADIMAJA

TIBA-TIBA panggung gelap. Mendadak lampu sorot yang tadinya menyorot dari atas padam seketika. Sekelebat bayangan muncul dari belakang panggung. Ia membelakangi penonton. Berdiri di atas sebuah level peninggi. Beriring para pengrawit menabuh gamelan, lampu menyala. Bukan dari atas, melainkan dari arah belakang panggung. Dua lampu sorot besar menerpa tubuh itu. Terlihat jelas, sosok dalam siluet itu. Perlahan ia pun turun dari level peninggi melalui tangga pada bagian depan level.

Tak ada yang berbeda dari latar panggung layaknya pertunjukan wayang orang. Terdapat tiga level peninggi dengan undakan serta dua layar besar yang terletak di sampingnya. Namun, yang jadi beda ialah set lampu dan layar multimedia. Sorotan berpejar lampu dari belakang panggung menjadikan suasana berbeda dalam pertunjukan kali itu. Tidak selayaknya pertunjukan yang menampilkan lampu dari depan atau atas. Justru lampu disorot dari arah belakang panggung. Dua layar ditempatkan di samping kanan dan kiri panggung. Layar itu menampilkan gambar hasil sorotan proyektor. Semua properti panggung sengaja bisa didesain agar bisa digeser dengan mudah. Sesuai dengan kebutuhan adegan. Sementara itu, layar bisa menampilkan gambar yang ditampilkan pun bisa berubah sesuai dengan adegan. Kadang menampilkan latar hutan, angkasa, bahkan istana keraton.

Itulah secuplik kesan panggung dalam pertunjukan wayang orang dengan lakon Abimanyu Mandira Sungsang. Gelaran ini dilakukan Wayang Kautaman di Gedung Kesenian Jakarta pada 7-8 April 2017. Pertunjukan ini diproduseri Irawati Surono dan disutradarai Ki Nanang Hape. Lakon ini merupakan karya tahunan ke-3 dari Wayang Kautaman setelah mementaskan Tudakala Trasna (2015) dan Sotya Gandhewa (2016).

Lakon Abimanyu Mandira Sungsang ialah sebuah tafsir atas hubungan Abimanyu (Wasi Bantolo) dengan Arjuna (Ali Marsudi) yang terpisah selama belasan tahun. Anak dan ayah itu tidak saling bertatap selama Pandawa harus menjalani hukuman 13 tahun akibat kalah dalam permainan dadu melawan Kurawa. Abimanyu harus tumbuh sebagai remaja tanpa bimbingan ayahnya.

Abimanyu tumbuh di Dwarawati. Sejak umur setahun, Arjuna meninggalkannya karena harus menjalani hukuman 13 tahun seusai kekalahan Pandawa dalam peristiwa permainan dadu di Astina. Sejak saat itu, Sumbadra (Tatik Kartini) dan Kresna (Agus Prasetyo) mengasuhnya. Abimanyu menemukan sosok ayah dalam diri uwaknya, Prabu Baladewa (Teguh Kenthus Ampiranto). Watak Baladewa yang keras pun ikut pula diwarisinya. Meski gerak-geriknya lembut sebagaimana Arjuna, kemarahan Abimanyu bisa meledak tanpa bisa diduga.

Pergolakan batin

Pergolakan batin Abimanyu terlihat dalam mimik dan gerak tari dalam pementasan ini saat ia bertemu dengan Arjuna atau ketika ia dibujuk dan dibangkitkan semangatnya oleh ibunya, Kresna, dan Gatotkaca. Pertemuan antara ayah dan anak ini tidak berjalan seperti yang diharapkan, seperti ada jarak.

Arjuna datang membawa kabar perjodohan Abimanyu dengan Utari (Ayun Anindita Setyawulan), putri Raja Matswapati dari Wiratha. Kabar itu lebih tepat disebut sebagai perintah. Hati Abimanyu bergolak. Ia ingin menolak maksud ayahnya itu karena telah beristri Siti Sundari (Galuh Puspita Sari). Abimanyu tidak ingin mengikuti jejak ayahnya. Ia ingin seperti Baladewa yang setia kepada satu perempuan. Namun, tidak ada pilihan lain kecuali menjalaninya karena ini bukan lagi perkawinan antara dua manusia, melainkan dua negara.

Tidak banyak waktu untuk mengurai dan meluruskan semua kerumitan itu, karena Baratayuda telanjur pecah di Kurusetra tidak terhitung lagi korban yang berjatuhan dari kedua pihak. Duryudana melantik Durna yang telah siap dengan Siasat Cakrabyuha. Untuk segera mengakhiri perang, Puntadewa dipilih sebagai sasaran. Pandawa terdesak hebat karena Arjuna dan Bima terpancing musuh terlalu jauh. Pandawa akan kalah dengan segera.

Kresna memanggil Abimanyu. Abimanyu menyanggupkan diri.
Kresna berusaha menahan marah atas tindakan Arjuna yang gegabah meninggalkan medan perang. Ia mengabarkan Abimanyu yang lolos dari pingitan. Abimanyu menembus barisan Cakrabyuha. Ia terkurung di pusaran tanpa celah untuk meloloskan diri.

Kali itu, pertunjukan serasa sangat berbeda. Panggung wayang orang mampu berkawin erat dengan unsur pertunjukan modern. Sugeng Yeah berhasil mewujudkan tata artistik panggung yang apik. Begitu pula penata musik Blacius Subono, penata tari Achnad Dipoyono, dan penata suara Purwo Aji. Mereka mampu mentransformasi panggung wayang orang menjadi suatu sangat berbeda. Sungguh pengalaman menonton pertunjukan wayang orang yang membekas.

Komunitas itu berhasil melalui proses produksi yang panjang. Semua unsur pertunjukan digarap dengan apik. Hasilnya, kreasi dan inovasi dalam rangka meruang pada kondisi kekinian, tapi tetap dalam kesadaran berpijak pada khasanah tradisi.

Tradisi harus diberi keluasan ruang untuk bermain. Asal dikasi kesempatan, seni tradisi bisa berkembang seperti dan menghasilkan perpaduan yang indah. Tradisi tidak kalah dengan seni pertunjukan lain.

"Ini saja maksimal kemampuan, minimal kasih tandalah. Maksudnya, teknologi, kemajuan hari ini atau apalah itu bisa berpadu. Tradisi ada di ruang itu, enggak berbenturan. Saya pengen ngomong itu," terang Ki Nanang Hape.

Satu konteks yang patut digarisbawahi dalam lakon itu ialah antara Arjuna dan Abimanyu, ketika cita dan pemikiran antar generasi terpaut dan tidak saling bertemu, persoalan pun muncul. "Cita-cita orangtua hari ini sama cita-cita anak muda itu berjarak. Pikiran-pikiran baru sama pikiran-pikiran lama hari ini. Itu problem," lanjutnya. Bagi Arjuna, karena Abimanyu anaknya, ia lebih tahu yang baik buat anaknya. Sebaliknya, bagi Abimanyu, ia merasa tahu yang lebih baik buat dirinya. "Menjadi anak orang besar itu enggak pernah sederhana," pungkas Ki Nanang. (M-2)

Komentar