Jeda

Penting, tetapi belum Tentu Berpengaruh

Ahad, 16 April 2017 12:00 WIB Penulis:

MI/FERDIAN ANANDA MAJNI

PENGAMAT komunikasi politik Effendi Gazali menyebut bahwa penggunaan jingle dalam kampanye sudah lama terjadi. Namun, fenomena itu baru terasa semarak sekarang ini seiring tensi politik yang tinggi.

Effendi menjelaskan, berdasarkan teori, penggunaan jingle politik memang penting. "Ada beberapa teori yang risetnya membuktikan bahwa bunyi musik jingle itu bisa teringat dan memengaruhi suara masyarakat dalam menentukan pilihannya," ucapnya kepada Media Indonesia Selasa (11/4).

Pengaruh jingle bisa lebih kuat lagi ketika menggunakan artis atau musisi cukup ternama. Nama besar artis, sudah bisa menarik perhatian masyarakat untuk memperhatikan jingle dan pesan yang dibawanya. Namun, dalam kondisi saat ini, jingle bisa jadi tidak berpengaruh banyak pada suara. Sebabnya, penggunaan jingle sudah begitu jamak bahkan setiap pasangan calon (paslon) pemimpin kepada daerah bisa memiliki banyak sekali jingle.

Hal ini dinilai Effendi bisa membuat bingung pemilih karena banyak yang di antara jingle itu tidak koheren meski sebenarnya dibuat untuk paslon yang sama. Selain itu, dengan banyaknya jingle, tidak ada satu jingle yang begitu melekat dalam benak pemilih.

Begitu banyaknya jumlah jingle pula yang membuat penyebaran lewat media sosial (medsos) juga tidak membawa pengaruh signifikan terhadap kekuatan pesan. Padahal, semestinya bisa menggantikan peran penyebaran jingle lewat media konvensional. Jika melihat hasil di lapangan, banyaknya jingle atau nama besar artis yang membawakan jingle itu memang tidak terkorelasi dengan hasil di pilkada.

Muzakir Manaf dan TA Khalid, misalnya, kalah di pilkada Provinsi Aceh 2017. Padahal, timses pasangan ini membuat sayembara khusus untuk jingle mereka.

Kekalahan juga menimpa Irianto MS Syarifuddin (Yance)-Tatang Farhanul Hakim yang berlaga di Pilgub Jabar 2013. Padahal, pasangan ini menggandeng band cukup terkenal di masa itu, Hello Band, untuk jingle mereka. Rio/M-3

Komentar