Jeda

Harga Jutaan hingga Setara Rumah

Ahad, 16 April 2017 11:00 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

MI/ARDI TERISTI

DI dunia maya nama studio musik itu cukup dikenal, bahkan jasanya dipakai band Jamrud dan Boomerang. Namun, mencari keberadaannya ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami. Butuh beberapa jam berkeliling di daerah Jati Cempaka, Bekasi, Jawa Barat, hingga Media Indonesia menemukan NN Studio.

Studio yang didirikan Topan Angga pada 1994 itu terletak di sebuah gang yang tidak bisa dilalui kendaraan roda empat. Namun, selain sudah melayani band ternama, studio itu pula yang ikut kecipratan rezeki dari Pilkada 2017 Bekasi.

Topan Angga bersama sang anak, Bonnie Angga, dipercaya tim dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk membuat jingle kampanye untuk pasangan yang mereka usung, Sa'duddin-Ahmad Dhani.

"Teman-teman saya yang bekerja sebagai humas di PKS meminta tolong saya membuat jingle tersebut. Saya dan anak saya membuat tiga tipe jingle dan akhirnya dipilih satu (oleh pihak PKS)," ujar Topan, 64, Rabu (12/4). Untuk jingle berjudul SAH, yang merupakan gabungan singkatan nama pasangan calon, NN Studio dibayar Rp4 juta.

Pesanan jingle kampanye juga menghampiri perusahaan khusus pembuat jingle, Jingle Indonesia (JI). Perusahaan yang berlokasi di Sleman, DI Yogyakarta, itu sudah mengerjakan tiga jingle terkait dengan pilkada.

"Kami membuatkan jingle yang isinya mengajak, menjelaskan, dan memuji," kata Muhammad Radityo dari JI, Jumat (14/4). Radityo enggan menyebut harga jingle untuk pilkada. Namun, ia menjelaskan jingle yang dikerjakan pihaknya biasanya dihargai Rp3 juta-Rp10 juta.

Bayaran lebih tinggi dirasakan Hello Band. Band asal Yogyakarta itu menggunakan melodi lagu hit mereka, Ular Berbisa untuk jingle kampanye Irianto MS Syafiuddin (Yance)-Tatang Farhanul Hakim di Pilkada Jawa Barat 2013.

Widi Nugroho, vokalis Hello Band, enggan menyebut nominal pasti bayaran jingle itu. Namun, ia mengaku bisa membeli satu unit rumah di Depok, Jawa Barat, dan kendaraan. "Selain bayaran, kita dapat beberapa off-air serta dikontrak selama masa kampanye juga," ujarnya.

Hubungan kerja sama yang berbeda ada di timses Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat. Ruhut Sitompul mengatakan timses Basuki-Djarot tidak memberikan bayaran kepada musisi yang menyumbang jingle dan suara bagi pasangan calon nomor dua itu.
"Aduh, kalau bayar mana mampu kita. Mereka itu sekali manggung saja bisa dibayar ratusan juta rupiah. Uang dari mana kita kalau harus bayar mereka apalagi setiap ada acara mereka juga turut meramaikan," canda Ruhut.

Sayembara

Di Aceh, metode memproduksi jingle itu pun sudah digunakan untuk menarik perhatian masyarakat. Cara yang dilakukan Divisi Media Center dan Informasi Strategis Partai Gerindra Aceh ialah lewat sayembara jingle. Sayembara digelar saat partai itu mengusung Muzakir Manaf (Mualem) dan TA Khalid di Pilkada Provinsi Aceh 2017.

"Karena kami melihat ini (sayembara jingle) adalah sarana untuk mengajak anak-anak muda untuk lebih care atau peduli terhadap politik," kata Ketua Divisi Media Partai Gerindra Aceh Mahfudz Y Loethan. Meski sayembara itu berhasil mengumpulkan banyak jingle, bahkan dari Jakarta dan Bandung, hanya jingle juara pertama yang masuk dapur rekaman. Juara pertama itu jatuh kepada penyanyi muda Aceh Dresiska Latifu Faisal dengan lagunya, Salam Panglima. Lagu itu diproduseri Adek lewat bendera Yahalsa Musik. Untuk juara pertama, penyelenggara memberikan hadiah uang Rp5 juta.

Soal keterlibatannya, Dresiska yang ditemui terpisah mengaku pada awalnya tidak mengetahui sayembara jingle kampanye. Gadis yang berkuliah di UIN Ar Raniry Banda Aceh itu hanya mengikuti arahan sang produser. Meski demikian, Dresiska mengaku setuju dengan cara kampaye melalui musik. Terlebih ia memang menyukai dunia musik dan senang jika lagu yang dinyanyikannya dapat diterima masyarakat dan disukai kalangan muda di Aceh.

Mengenai pilihan politik, Dresiska yang juga baru menjalankan hak suaranya di pilkada ini mengatakan tetap bisa independen. Gadis yang menjadi finalis Sunsilk Hijab Hunt 2016 itu menilai hubungan mutualisme musisi dan timses dalam jingle kampanye memang tidak semestinya memengaruhi pilihan politik.

Hal sama juga dikatakan Widi Nugroho dari Hello Band dan Topan Angga dari NN Studio.

"Saya murni bisnis, tidak ada paksaan untuk memilih pasangan tertentu. Karena memang dari awal saya juga sudah tegaskan kalau ini bisnis yang tidak ada urusannya dengan politik, apalagi ada paksaan untuk harus memilih pasangan calon tertentu," tegas Topan. (FD/AT/M-3)

Komentar