WAWANCARA

Politik Sesaat, Jangan Rusak Bangunan Keumatan

Ahad, 16 April 2017 09:34 WIB Penulis:

MI/ROMMY PUJIANTO

INSIDEN pengusiran calon Wakil Gubernur DKI Jakarta nomor urut dua Djarot Saiful Hidayat seusai menjalankan salat Jumat di Masjid Al Atiq kawasan Tebet mendapat kecaman dari masyarakat.

Tak pelak, hal itu menjadi perbincangan di jagat Twitter dengan tagar #masjiduntuksemua. Lalu bagaimana Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar menanggapi hal tersebut? Berikut wawancara wartawan Media Indonesia Erandhi Hutomo Saputra dengan Rektor Institut Perguruan Tinggi Ilmu Alquran itu, kemarin.

Bagaimana Anda melihat peristiwa pengusiran calon Wakil Gubernur DKI Djarot seusai salat Jumat di Masjid Al Atiq Tebet?

Kalau ada pengusiran dari masjid sementara orang itu tidak bermaksud niat jelek di masjid. Salat Jumat di masjid kan hukumnya wajib, kecuali kalau maling. Saya kira tidak elok mengusir sesama umat Islam.

Apa yang seharusnya ditunjukkan umat Islam?

Kita harus mencerminkan akhlakul karimah itu (dengan saling) menghargai. Orang nonmuslim (saja) dihargai Nabi masuk ke masjid apalagi kalau seorang muslim mau menjalankan salat Jumat. Saya tidak tahu konteksnya persis (saat kejadian itu), tapi saya mengimbau tawadu (rendah hati)-lah. Kita harus menghargai tamu, itu kan jemaah masjid tamu Allah karena masjid itu rumahnya Allah. Kita tampilkan akhlakul karimah, akhlak yang mulia ditampilkan di masjid.

Apakah hal itu merupakan politisasi masjid?

Saya tidak bisa memberikan komentar karena harus memahami suasana kebatinan dalam situasi kemarin (pengusiran), tapi yang jelas siapa pun juga orang yang masuk masjid itu, kalau niatnya baik, harus dihargai. Apakah itu politisasi, saya tidak tahu.

Pengusiran tersebut tidak dibenarkan?

Iya

Bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi perbedaan politik?

Umat Islam itu harus memberikan pencerahan terhadap dirinya sendiri dan orang lain, harus dipahami juga masalah politik itu persoalan sesaat, tapi persoalan keumatan itu persoalan seumur hidup. Jadi saya minta kepada jemaah kita selesai nanti pemilu ini, mari kita kembali memperbaiki hubungan-hubungan yang selama ini ada kerenggangan antara satu sama lain. Jangan sampai persoalan politik sesaat ini merusak bangunan keumatan yang telah dibangun sejak lama.

Apa imbauan Anda untuk umat Islam menjelang pilkada DKI putaran kedua pada 19 April?

Pemilihan nanti ini mari kita memilih calon kita sesuai dengan hasil istikharah kita masing-masing, tanpa pernah harus menjustifikasi kita yang paling baik. Jadi, imbauan saya salat istikharah-lah mohon kepada Allah. Ya Allah calon paling tepat untuk kami pilih siapa. Kalau sudah muncul (hasil istikharah), itulah pilihan yang terbaik tanpa pernah kita menyalahkan orang lain. X-4

Komentar