Pesona

Kekuatan dan Sprit Nomaden

Ahad, 16 April 2017 05:00 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari

MI/Rommy Pujianto

Gaya kaum nomaden dihadirkan lewat aksen tumpuk yang juga persis seperti gaya berbusana kaum pegunungan.

Tampilan feminin dan maskulin dalam satu karya rancang bukan hal baru dalam dunia fesyen. Namun, apa yang dipresentasikan perancang muda, Rani Hatta tetap terasa berbeda karena mengemas dengan tampilan chic sekaligus sporty. Perancang lain yang juga memberikan daya tarik ialah Deden Siswanto, dengan inspirasi kaum nomaden yang cara berpakaiannya ia sukai.

Mengusung inspirasi dari zebra cross, Rani tak sekadar menyisipkan aksen garis-garis hitam putih pada koleksinya. Seperti pada salah satu look, ia menghadirkan efek seperti tali sepatu lewat tali warna merah yang disimpulkan pada lubang-lubang berjajar di outer tanpa lengan.

Warna merah itu juga membuat efek kontras di antara nuansa abu-abu pada outer. Sementara di bagian dalam, Rani menghadirkan blus berbahan tebal dan berkerah tinggi (turtle neck) dan aksen serut di bagian pergelangan tangan. Untuk bawahan, Rani menghadirkan rok tutu berwarna hitam, benar-benar paduan segar dan berani.

"Aku menghadirkan pita webbing (anyaman) nah motifnya seperti zebra cross, dan aku juga bermain kain lurik di beberapa koleksi. Paletnya aku pilih warna abu-abu, hitam, serta sentuhan merah," ucap Rani Hatta yang kental dengan ciri khas monokrom di acara Muslim Fashion Festival (Muffest) bersama Wardah, Youniverse, di Jakarta, Sabtu(8/4).

Sementara Deden Siswanto yang karib disapa Densis, menampilkan gaya kaum nomaden yang lekat dengan aksen tumpuk, yang juga persis seperti gaya berbusana kaum pegunungan. Sesuai dengan tren make up Wardah yang dikenakan dengan unsur natural cenderung pucat pasi, Densis banyak menghadirkan warna seperti beige, abu-abu, serta krem.

Salah satu tampilannya, kemeja putih panjang dibalut dengan outer, dan dipadu selendang yang diikat dengan obi berwarna merah muda pucat. "Bahannya ditampilkan yang memberikan kesan kusut, mulai dari katun dan linen. Ya kaum nomaden ituu kan bajunya bertumpuk dan terlihat seperti kusut begitu," pungkas Deden.

Antara Drama dan Kesetiaan

Dua desainer lain yang tampil pada panggung Youniverse di Muffest adalah Irna Mutiara dan Anniesa Hasibuan. Keduanya menghadirkan warnanya tersendiri, Irna yang biasa dengan pilihan warna lembut kini mengkombinasikan dengan palet hitam untuk menghadirkan kesan kesetiaan dan ketegaran seorang perempuan.

"Menggunakan lini Irna La Perle, menghadirkan busana muslim yang glamor. Namun tetap dalam pemilihan warna yang menyiratkan kesetiaan dan ketegaran," ungkap Irna. Salah satu busananya dilengkapi dengan aplikasi rangkaian manik-manik dan bulatan seperti mutiara.

Sementara Anniesa, masih mengambil rangkaian cerita drama seorang perempuan yang koleksinya sempat dipresentasikan di New York Fashion Week. Namun, kali ini ia mengambil inspirasinya saja dan memadukan dengan tema riasan Wardah yang lebih mengunggulkan unsur nude. Pilihan warnanya diakui Anniesa lebih kalem, dengan pilihan putih dan krem. Untuk koleksi ini pun beberapa rancangannya lebih simpel dan wearable (cocok dikenakan di berbagai kesempatan). (M-3)

Komentar