MI Muda

Satu Panggung, Aneka Lakon Sunda

Ahad, 16 April 2017 04:30 WIB Penulis: Ni Putu Trisnanda/M-1

DOK PUTU

Mereka merayakan teater, budaya Sunda, serta memadukannya dengan gaya anak muda kekinian.

SUARA angklung dan gong memecah kesunyian di dalam ruang pergelaran tua itu. Sorak sorai anak yang memainkannya menjadikan suasana kian meriah hingga penonton ikut bersorak.

Dari sudut panggung muncul perempuan paruh baya yang memakai kebaya dan kain lusuh dengan rambut yang tergelung sederhana yang tengah berbincang dengan pria yang tengah duduk di sebuah bangku rotan.

"Iteung cik gawekeun cikopi."

"Ah embung, lieur aing mah boga salaki teh ni kedul-kedul teuing.""Tapi cinta kan?" seraya menggoda wanita paruh baya itu.

Tawa pun lepas menggantikan rasa penasaran yang sejak tadi hinggap di ruangan itu. Kisah Kabayan Jadi Dukun merupakan kisah populer dari buku karya Moch Ambri yang kemudian diubah menjadi sebuah naskah drama berbahasa Sunda oleh HR Hidayat Suryalaga, 76, atau yang kerap disapa Abah Surya.

Kisah Kabayan yang sarat akan nilai dan pesan kebudayaan itu terpilih menjadi pembuka acara penghargaan Festival Drama Basa Sunda (FDBS) Ke-18 yang digelar Teater Sunda Kiwari Bandung. Rangkaian yang berlangsung sejak 20 Maret hingga 9 April 2017 itu diselenggarakan di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jl Baranangsiang, Bandung.

Sesuai dengan namanya seluruh drama yang dimainkan di FDBS haruslah menggunakan basa indung atau bahasa Sunda. Hal ini juga yang selalu menjadi daya tarik sekaligus kesulitan tersendiri karena meski peserta yang terdaftar meliputi seluruh daerah di Jawa Barat, ada beberapa peserta yang tidak biasa melafalkan kata-kata dari bahasa Sunda dengan baik. Lain lagi dengan daerah-daerah luar Bandung yang sebagian besar memiliki pelafalan dan bahasa Sunda yang berbeda dengan naskah-naskah yang disediakan.

"Justru itu daya tariknya, kita jadi bisa mengetahui logat bahkan bahasa Sunda dari masing-masing daerah. Tujuannya kan mengenal dan membiasakan diri untuk menggunakan bahasa daerah setempat. Jadi salah-salah dikit tak masalah. Namanya juga belajar," ujar Dadi P Danusubrata, Ketua Sunda Kiwari, yang ditemui di Rumentang Siang pada Minggu (9/4).

Uniknya, kegiatan yang sudah terselenggara sejak 1990 ini tak pernah sepi peminat. Jika sebelumnya angka peserta berada di angka 60-an kini jumlah peserta meningkat hingga 79 peserta. Eky Rizky, 35, selaku Ketua Pelaksana, menambahkan, meski akhirnya ada 9 kelompok yang batal mengikuti perlombaan karena berbenturan dengan masa persiapan ujian, ia tetap merasa euforia tahun ini tetap meningkat karena munculnya daerah-daerah baru yang menjadi peserta.

"Tahun ini ada beberapa daerah baru yang menjadi peserta, ada Indramayu dan Pangandaran," jelas pria yang menggunakan ikat sunda berwarna biru di kepalanya saat ditemui Muda seusai kegiatan.

Moral anak muda

Jika FDBS ini mengangkat nilai-nilai Pancasila, pada kali ke-18 ini, ia mengangkat tema fenomena anak muda. Lingkupnya yang amat luas membuat kisah yang dimainkan pun beragam. Sunda Kiwari menyediakan lima naskah pilihan bagi para peserta. Yakni, Pasalia (Aji Nurhamzah), Salayar Dami (Nazarudin Azhar), Belis (Zaenal Abidin), Durum (Ed Jenura), dan Pret (E Rokayat Asura).

"Fenomena gaya hidup anak muda sekarang kan banyak sekali yang memprihatinkan. Jadi, melalui festival ini kami ingin menyadarkan anak-anak muda ini sekaligus bersama-sama mengembalikan nilai-nilai kebudayaan," tambah Eky.

Salah satu naskah yang paling banyak dipilih para peserta ialah naskah karya Nazarudin Azhar, Salayar Dami.

Kisah yang menceritakan keresahannya mengenai konten-konten media khususnya televisi yang isinya sudah tidak lagi mendidik. Bahkan, cenderung menjerumuskan anak-anak pada gaya hidup barat yang penuh dengan romansa dan juga kebencian.

Nazarudin juga menjelaskan, meski naskahnya berisi sindiran dan potongan-potongan kekecewaannya terhadap karya televisi, ia mengaku menawarkan solusi di bagian akhirnya. "Justru dengan naskah ini, pemahaman dari setiap pesertalah yang bisa menimbulkan solusi-solusi baru yang beragam."

Lain Nazar lain pula Aji Nurhamzah, dengan naskahnya yang berjudul Pasalia, ia mencoba menekankan nilai-nilai norma dari kehidupan sehari-hari. "Melalui naskah ini saya ingin menekankan rasa dendam dan sembrono itu tidak baik.

"Hal senada pun disampaikan Rinda Tri Lestari, 16. Menurutnya, nilai yang disampaikan melalui naskah-naskah drama itu sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga gadis yang juga mendapatkan penghargaan aktris terbaik pada FDBS ke-18 itu mengaku tidak begitu kesulitan saat proses latihan.

Paket lengkap

Sobat Muda, ternyata selain mengikuti perlombaan dan berharap mendapatkan juara, ada hal lain lo yang dicari para peserta yang setiap tahunnya mengikuti perlombaan ini.

Salah satunya, Silvi Rachmawati, 15, siswi yang tergabung di grup Teater Kabut dari SMAN 1 Cimahi, mengaku ia ingin memiliki banyak pengalaman dan kenalan. "Menang mah harapan semua orang, tetapi di luar itu saya jadi punya pengalaman untuk tampil di ajang perlombaan yang besar. Lalu saya juga bisa mengenal teater-teater lain jadi bisa ada perbandingan dan bisa memperbaiki diri," ujar gadis dengan tahi lalat di pipi itu.

Teater Sunda Kiwari ingin menjadi wadah bagi para pegiat seni teater. Mereka merasa selama ini fasilitas dan kegiatan-kegiatan sejenis masih langka ditemui. Padahal, melalui kegiatan seperti ini diharapkan nilai-nilai yang ingin disampaikan lebih mudah untuk terserap oleh mereka. "Anak muda sekarang teh suka banget tampil dan disaksikan banyak orang, tinggal bagaimana kita mengisi bagian konten apa yang disampaikan. Supaya sejalan dengan norma dan sekaligus bisa menjaga nilai-nilai kebudayaan kita," tutup Eky sembari menuju sekumpulan panitia untuk berfoto bersama. (M-1)

Ni Putu Trisnanda, Jurusan Jurnalistik

Universitas Padjadjaran

Komentar