Travelista

Selamat Datang di Parigi Moutong

Ahad, 16 April 2017 02:00 WIB Penulis: Zat/M-2

MI/Iis Zatnika

Si hitam eboni

Perjalanan menuju Parigi Moutong bisa ditempuh dari Palu selama 90 menit dengan jalan mulus berkelok-kelok. Di sepanjang jalan bisa dilihat jajaran pohoh kayu hitam atau eboni. Beberapa pohon berukuran raksasa dengan diameter lebih dari satu meter. Muhtar, pengendara kendaaran sewaan saya berkisah, eboni sempat diperdagangkan hingga ke Jepang karena warnanya yang hitam pekat juga kekuatannya. “Bahkan ada yang sudah jadi miliader, tapi setelah pohonnya makin berkurang, kini dilarang karena nekat menebang, bahkan sudah banyak yang dipenjara,” kata Muhtar.

Kerajaan jin

Kisah mistis itu menjadi pemanis dalam perjalanan menuju Parigi Moutong. Di setengah perjalanan, menjelang jembatan tua, yang kini telah dibongkar, sebelum melewati tonggak kuning, pengendara akan membunyikan klakson tiga kali.

Klakson itu menjadi penanda penghormatan pada Wentira, kerajaan jin yang diyakini bersemayam di sana. Tonggak kuning itu menjadi gerbangnya. “Di sana, ada kehidupan seperti di sini, ada pasar, jalan dan rumah-rumah. Hanya orang yang punya kemampuan lebih yang mampu melihat. Dulu acara televisi yang mengulas misteri pernah ke sini tapi nggak berani masuk ke sana,” ujar Muhtar yang melarang saya memotret tugu itu.

Kisah tentang dunia tak kasat mata itu kemudian berganti dengan pemandangan warung-warung penjual kubis, kol, wortel dan sawi-sawi nan segar. Sayuran itu dititipkan petani di sekitarnya untuk dijual pada para pelintas jalan trans-Sulawesi yang menghubungkan Manado, Poso, hingga Gorontalo.

Legenda durian

Tak menginjak Parigi Moutong jika tak mencecap duriannya yang legen­daris. Saya bersama Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintah Kementerian Pariwisata Tazbir beruntung bisa menikmati durian dengan tekstur kering namun legit sempurna itu di rumah jabatan Bupati Parigi Moutong, Samsurizal Tombolotutu, kendati musim durian masih akan datang sebulan lagi.
Durian kiriman dari Dinas Pertanian itu berwujud dan berasa sempurna. Kulitnya hijau segar dengan tampilan daging kuning mengkilat, terasa padat dan legit. “Ini durian jatuh dari pohon, warga di sini biasanya menunggu durian benar-benar jatuh, baru diambil,” kata Samsurizal.

Sumur air panas Pantai Tolelo

Berkah alam itu bukan cuma ada di laut, di pantai pun keajaiban bukan hanya soal keindahan, namun juga pada temperatur. Kami mampir di pantai kawasan Tolelo yang punya daya tarik baru, ada sumur-sumur dengan dia­meter setengah meter di antara pasir pantainya yang putih yang mengeluarkan air panas tawar.

“Pas Sail Tomini itulah, air panas ini ditemukan. Ada anak yang main di pantai, gali-gali pasir lalu ketemulah air panas ini. Oleh warga dibuatlah sumur, agar airnya tak bercampur air laut. Jumlahnya ada beberapa di sepanjang pantai Tolelo ini,” kata Umar, warga yang menemani saya merendam kaki dalam ember-ember datar.

Sadar akan daya tarik sumur air panas itu, warga menyediakan ember dan menyediakan jasa menimba dari sumur yang kedalamannya kurang dari setengah meter itu. Air dikucurkan dan kaki pun dipersilakan direndam, namun, aw! Temperaturnya luar biasa.

Memang tak sepanas air mendidih, namun tetap saja temperaturnya terasa menyengat. “Tapi ini airnya berkhasiat, bisa sembuhkan pegal-pegal, kolesterol, badan jadi segar. Kakinya jangan digoyang-goyang ya, supaya enggak terasa panas, lama-lama enak kok,” kata Umar.

Nyatanya, saya cuma kuat beberapa menit saja bertahan. Istimewanya, temperatur panas air itu terasa awet, sepuluh menit berlalu, derajatnya terasa tak berkurang di kulit.

Sementara para pelancong menger­nyit kepanasan, tiga anak balita warga lokal berpesta air panas silih berganti mengguyur air di atas kepala mereka.

Eksplorasi karang

Puas di darat, mari menggunakan peranti snorkeling atau selam. Di Teluk Tomini terdapat 1.031 hektare kawasan terumbu karang. Penyuka panorama karang dan ikan akan menikmati berkah garis khatulistiwa yang melintasi Tonimi, yang menghasilkan pemandangan mahluk bawah laut eksotis, mulai apollo, pinnacle, menara, barracuda, hingga lumba-lumba. Ular laut di Pantai Kayu Bura yang berenang santai di permukaan menjadi ucapan selamat datang buat saya, mesti ditindaklanjuti dengan acara berenang bersama penghuni laut lainnya.(Zat/M-2)

Komentar