Kuliner

Street Food ala Thailand

Ahad, 16 April 2017 01:30 WIB Penulis: Gan/M-4

MI/Gana Buana

TAMPILAN tempat ini mirip dengan warung pinggir jalan. Latarnya menyerupai etalase toko yang sudah tutup terlihat di salah satu sudut restoran tersebut. Ditambah lagi bangku dan mejanya terbuat dari kayu dengan warna cat yang tidak rata dan luntur. Dindingnya pun penuh mural penggugah selera.

Restoran itu ialah Thai Alley. Dari namanya tentunya bisa langsung ditebak restoran ini mengusung tema makanan khas Thailand. Hanya saja, konsep yang mereka bangun ialah street food.

Aneka menu dari Negeri Gajah Putih itu ditawarkan dengan harga yang relatif lebih murah jika dibandingkan restoran berkonsep fi ne dinning. Dengan rentang harga Rp35ribu-Rp135ribu, pelanggan bisa menikmati aneka kudapat yang chef-nya sendiri dihadirkan dari negeri asalnya.

Marketing Thai Alley Ambar Harum menceritakan awal berdirinya Thai Alley dari hobi sang owner yang suka traveling. Saat di Thailand, banyak ditemukan makanan pinggir jalan dengan rasa lezat, namun soal harga tak sampai menguras kocek. Sehingga sang owner tertarik mengadopsi di Indonesia, khususnya di Jabodetabek.

Mengawali santapan siang itu ialah pad thai. Makanan khas Thailand ini konon diciptakan untuk membangkitkan nasionalisme bangsa di awal abad ke-20. Sesuai namanya, pad artinya gorengan. Jadi sajian ini ialah mi goreng khas Thailand.

“Teksturnya kenyal dan lembut, rasanya seperti paduan antara mi dan kwetiauw jika di Indonesia,” kata Arum pada Media Indonesia di Summarecon Mall Bekasi, beberapa waktu lalu. Aroma bumbu pad thai amat semerbak.

Terasa ada bau harum minyak zaitun yang diduga sebagai bahan untuk menumis bumbu. Campuran telur, mi, dan kecambah pun berpadu di dalam lidah. Untuk memakan pad thai ada sambal nancim pad thai yang khusus untuk menyantap mi ini. Sambal ini terbuat dari saus tomat, irisan cabai, dan bawang merah, rasanya bertaut antara asam dan pedas.

“Pad thai ini akan makin lengkap jika ditambah perasan jeruk nipis, pas rasanya di lidah,” kata dia.

Sajian selanjutnya ialah tom yam talay. Kuah asam, manis, asin, dan pedas pada tom yam ini memang tak ubahnya rasa tom yam pada umumnya. Uniknya, pelanggan bisa memesan isi dari tom yan tersebut. Bahkan para vegetarian bisa menikmati tom yam berisikan sayuran.

“Isinya bisa di-request, tingkat kepedasan juga bisa dipesan,” ucap Arum.

Untuk pecinta daging, lanjut Ambar, pihaknya menyediakan hidangan utama andalan yakni neua yang. Neua yang adalah daging stik panggang dari Australia. Bedanya dengan stik pada umumnya ialah daging yang diiris tipis-tipis. Karena disajikan demikian tipis, bumbu panggang yang manis pedas kaya akan rempah-rempah pun mampu meresap hingga ke dalam dagingnya.

“Ini juga membuat daging dimasak sampai matang dan menjamin dagingnya empuk dan bertekstur lembut,” kata Ambar.

Sebagai hidangan penutup, sajian yang ringan dan populer dari Thailand, khao niew mamuang atau nama populernya adalahmango sticky rice.

Kuliner ini juga hampir bisa ditemui di seluruh Thailand dan jajanan yang sangat disukai di Thailand. Tak lupa, dalam cuaca panas, kati sod jadi andalan hidangan penutup.

Es krim kelapa yang dipadukan dengan toping kelapa muda, kolang kaling, ubi, serta kacang merah ini boleh dicoba. Sebab, rasanya yang unik menjadi daya tarik. “Satu sendok tidak akan cukup,” tukas dia. (Gan/M-4)

Komentar