MI Muda

Nasi dan Lauk Sekali Gigit

Ahad, 16 April 2017 01:00 WIB Penulis: Ni Putu Trisnanda, Jurusan Jurnalistik, Universitas Padjadjaran

Dok. Pribadi

Prinsip orang Indonesia yang merasa belum makan kalau belum menyantap nasi jadi pemacu bisnis Nasijiwaku.

SOBAT Muda, sebagian orang Indonesia berpendapat menyantap berbagai lauk-pauk dengan nasi ialah hal wajib yang harus dilakukan. Namun, bagaimana jika olahan beras tersebut dibuat seperti burger yang diisi dengan ayam suwir aneka rasa? Aneh? Ternyata tidak, di Bandung terobosan itu justru sedang ngetren lo!

Roy Ramadhan, 19, memutuskan membuat Nasijiwaku yang kini keuntungannya sudah mencapai Rp16 juta per bulan.

Muda menjumpai Roy di Bandung, Senin (10/4). Ia berbagi kisah dan inspirasi Nasijiwaku, simak ya!

Ceritakan dong awal mula Nasijiwaku?

Waktu itu aku baru masuk SMA dan kebetulan keadaan ekonomi keluargaku sedang tidak baik, bahkan untuk makan saja susah. Akhirnya aku dan keluarga perlu memutar otak untuk bikin usaha yang bisa membantu pemasukan keluarga. Singkat cerita karena ibu suka bikin berbagai olahan nasi dan suka nge-bekelin. Aku kepikiran untuk bikin bisnis dari olahan nasi yang praktis, murah, tetapi rasanya juga enak.

Waktu itu kan masih sekolah, belajar jualan dari mana?

Awalnya aku coba-coba sendiri, ke­be­tulan di sekitar rumah banyak anak-anak ITB, salah satunya ada kakak-kakak dari School of Business and Mana­gement (SBM) ITB. Nah, mereka kan sering ada tugas untuk membuka dan menjalankan sebuah bisnis jadi sering konsultasi dan ngobrol. Dari sana aku belajar cara mengukur waktu produksi, menghitung harga jual, dan lain-lain. Baru deh aku tawarkan ke mama, pas bilang ok aku jalankan bisnis ini.

Pasarnya siapa sih?

Mulanya, target pasar aku hanya anak SMA dan mahasiswa. Makanya dulu Nasijiwaku cuma ada di sekolahku, SMAN 2, Bandung dan di Kampus ITB. Tapi, kalau sekarang anak-anak SD dan SMP dengan sendirinya sudah ikut pesan. Alhamdulillah, sekarang produkku sudah tersebar di seluruh Bandung dan sekitarnya kurang lebih sekarang sudah ada 44 SMA, 4 SMP, 1 SD, dan 15 Universitas yang rajin pesan Nasijiwaku setiap harinya.

Biasanya dijual untuk apa?

Utamanya sih pada pesan untuk sarapan karena sekarang kan untuk sekolah atau berangkat ke kampus mereka sering kali enggak ada waktu untuk siapkan sarapan atau bekal sendiri. Tapi ada juga yang pesan Nasijiwaku untuk dijual buat modal dana usaha untuk acara-acara (pentas atau konser) di sekolah atau kampus karena harganya yang murah.

Bentuknya yang unik itu kepikiran dari mana?

Aku sangat terinspirasi dari burger. Selain praktis saat dimakan, ternyata dari segi proses produksi dan proses kemas biaya yang dikeluarkan tidak begitu besar. Ditambah konsumen Nasijiwaku itu biasanya pesan untuk sarapan kan, jadi aku rasa bentuk itu akan sangat memudahkan mereka waktu mengonsumsinya. Makanya aku buat konsep itu, bisa makan nasi sekaligus lauknya dalam sekali gigit.

Apalagi yang menjadi ciri khas?

Selain bentuknya yang praktis, aku coba kasih varian rasa yang unik pada isiannya. Sekarang untuk menu isian ayam suwir sudah ada 5 varian rasa, ada rica-rica, semur, teriyaki, seblak. Lalu ada dua rasa baru yaitu katsu dan fillet aku coba kasih isian yang kering supaya lebih praktis dan tingkat pedasnya bisa diatur konsumen sendiri karena saus­nya terpisah.

Mana yang menjadi favorit?

Semuanya punya penggemar masing-masing. Yang suka pedas biasanya memilih teriyaki, tetapi sebaliknya yang enggak suka akan pilih semur. Untuk belakangan ini fillet atau katsu juga banyak peminat sih, mungkin karena praktis dan tahan lama.

Ngomong-ngomong Nasijiwaku bisa tahan berapa lama?

Bisa tahan 8-12 jam. Tergantung bagaimana proses simpannya sih selama mengantar dan menjual. Terutama untuk yang isiannya basah, misalnya seblak. Harus kena udara yang cukup supaya tidak lembap, tapi terlalu banyak kena udara juga kurang baik sih. Harus pas.

Nah, kalau harganya berapa?

Ada beberapa jenis harga kalau dari aku. Kalau untuk pelajar dan mahasiswa aku jual Rp5.000 tetapi kalau untuk anak-anak SD aku jual Rp4.000 karena ukurannya lebih kecil supaya nyaman pas makannya juga. Tapi kalau lewat reseller sih biasanya harganya beragam yang pasti kurang dari Rp10 ribu. Karena moto Nasijiwaku yang utama itu murah, enak, dan praktis.

Ceritakan dong tentang sistem reseller-mu?

Nah, sebelumnya nggak kepikiran bakal ada sistem kaya begini. Sampai akhirnya saat pesanan mulai banyak baru deh agak kewalahan waktu mengantar pesanan. Di sisi lain anak-anak muda sekarang minat usahanya juga tinggi. Lalu aku putuskan buat sistem reseller itu. Mereka bisa ambil produk sendiri di rumah aku atau bisa juga diantar tapi kebanyakan sih mereka memilih untuk mengambil sendiri supaya enggak ada biaya tambahan. Selain itu, keputusan Roy untuk tidak membebankan biaya produk yang tidak habis ke mereka bikin mereka makin rajin jualan.

Cara jadi reseller?

Tinggal datang atau kontak saja, kalau memang komitmen dan juga konsisten pasti dibantu. Supaya mereka juga bisa belajar mengatur waktu, membaca pasar, dan punya pengalaman yang utama sih supaya bisa menghasilkan uang jajan juga.

Sistem promosi?
Aku pakai media sosial, tapi dengan adanya reseller itu justru memperluas jaringan Nasijiwaku.

Kepikiran untuk jual di luar Ban­dung?

Sejauh ini belum sih, SDM di bagian produksi masih belum siap. Ditambah aku masih ingin memperbaiki sistem dulu. Misalnya memberi pernyataan halal di kemasannya, ngurus pajak, terus membuat tempat usaha yang sesuai dengan standar nasional. Jadi, aku bisa menambah pekerja dan juga ada jam kerja yang pasti supaya orang rumah tidak kecapekan.

Memang sekarang ada berapa orang di tim produksi?

Di dapur baru ada 3 orang dan packing 4 orang. Ternyata lebih sulit mencari pekerja untuk tim produksi dari pada reseller. Karena rasa dan juga bentuk kemasan itu harus sesuai agar tidak mudah basi dan bikin konsumen kapok.

Lalu gimana cara bagi waktu antara kuliah dan jualan?

Nah ini, aku pun masih perlu banyak belajar mengatur waktu sebenarnya. Karena suka terlalu asyik ngurusin jualan pas kuliah malah jadi ngantuk di kelas. Namun, menurutku sih enggak masalah karena masih tahun pertama aku justru sengaja kejar setoran supaya nanti pas aku sudah masuk tahun-tahun selanjutnya yang lebih sibuk kuliah Nasijiwaku sudah mapan. Jadi, aku bisa fokus kuliah.

Rencana terdekat untuk Nasijiwaku?

Sebentar lagi kan puasa, aku mau eksplorasi menu-menu untuk sahur atau buka puasa. Kalau sahur kan suka pada malas keluar terutama untuk anak kos-kosan jadi aku pikir akan cocok sama Nasijiwaku bisa diantar ke kosan mereka. Aku juga ingin bekerja sama dengan komunitas-komunitas yang ingin Saur on the Road (SOTR) sekalian beramal tapi juga tetap bisa menghasilkan hehehe. (M-1)

Komentar