Film

Film Biopik yang tidak lagi Jemu

Ahad, 16 April 2017 00:45 WIB Penulis: Hera Khaerani

DOK. LEGACY PICTURES

Meski mengangkat ulang film sejarah, film Kartini berbeda dari pendahulunya dan mampu mengocok perut.

“DIA bukan pembantu, dia ibu kita!” Jeritan gadis belia itu membuka film Kartini. Perlawanan keras diberikan Kartini cilik yang mulai memasuki usia akil balig. Kedua kakaknya berusaha memaksanya untuk pindah ke rumah utama, tidak lagi tidur di rumah belakang.

Padahal, di rumah belakang itulah tempat Ngasirah, ibu kandungnya, tinggal. Kartini hanya ingin tidur dengannya.

Hanya karena tidak mempunyai darah ningrat, Ngasirah menjadi orang terbuang di rumahnya sendiri, dianggap pembantu. Kartini pun tak boleh memanggilnya ibu, tapi sebutan selayaknya pembantu.

Ayahnya Raden Sosroningrat ialah bangsawan yang menjabat Bupati Jepara. Banyak aturan dan tradisi Jawa yang melekat pada dirinya dan keluarganya. Seperti ketika mulai menstruasi dan memasuki usia akil balig, setiap anak perempuan di keluarga Jawa ningrat itu harus langsung masuk ke kamar pingitan. Mereka dikurung di dalam kamar hingga menjadi Raden Ayu dan menikah dengan pria ningrat.

Tradisi itu membuat nilai perempuan, ningrat sekali pun, hanyalah untuk perannya dalam perkawinan. Sekali pun menjadi istri kedua, ketiga, atau seterusnya, asalkan menikahi seorang ningrat berkeduduk­an, itu dianggap sebagai penghormatan. Hal ini juga dialami Kartini.

Dalam film garapan sutradara Hanung Bramantyo ini, Dian Sastro yang memerankan Kartini tidak semata mengekspresikan tekanan dan penolakan tradisi Jawa, tapi juga dikemas dengan cara humoris yang menuai gelak tawa. Seperti raut jenuh di wajahnya saat belajar tradisi Jawa atau saat menanti gi­liran dirawat tubuhnya, dia malah ketiduran.

Berkat kakak lelakinya, Kartono (Reza Rahadian), Kartini bisa menikmati kebebasan. Sebelum ke Belanda, Kartono memberikan hadiah kunci kepada Kartini. Itulah kunci pintu kebebasannya.
Meski tak bisa leluasa keluar dari rumahnya, Kartini menemukan kunci lemari di kamar kakaknya yang berisi berbagai buku berbahasa Belanda.

Dengan imajinasi yang dibangun dari berbagai kisah di dalam buku, sekali pun dipingit, Kartini seolah berkelana ke berbagai tempat dalam buku-buku tersebut.

Dihormati Belanda

Kefasihan berbahasa Belanda dan kecerdasan Kartini membuatnya mendapat perhatian dari para pejabat Belanda yang kerap berinteraksi dengan ayahnya. Dia menyadari dengan mengandalkan hubungan yang dijaga ayahnya dengan para Belanda itulah, dia bisa mengubah nasibnya.

Kartini minta diajari menulis artikel hingga rutin diterbitkan dalam jurnal Belanda. Hal itu menjadikannya kian disayang ayahnya dan mendapatkan berbagai pengecualian dari tradisi.

Melihat nasib anak-anak perempuan di sekitarnya yang sudah harus menikah dan melahirkan di usia muda, dia berkesimpulan pendidikan mesti diperjuangkan demi mendapat kesetaraan. Dia pun mengajari anak-anak perempuan dan orang miskin untuk membaca. Ia juga menciptakan lapangan kerja untuk masyarakat di Jepara dan sekitarnya.

Semangat perjuangan dan penolakan atas ketidaksetaraan yang dihadapi perempuan ditularkan kepada dua adik perempuannya yang sama-sama dipingit, yakni Roekmini dan Kardinah. Dengan ditemani buku-buku, ketiganya tumbuh cerdas dan bertalenta.

Namun, sekeras-kerasnya perjuangan itu dan betapa pun penghormatan yang didapatkannya dari Belanda, pada akhirnya tradisi yang mengakar dan tekanan keluarga membuat mereka kembali 'terpasung'. Kartini sempat berusaha lari dari tradisinya dengan mengajukan beasiswa untuk sekolah di Belanda. Sayang sebelum pengumuman beasiswa itu tiba, dia dipaksa untuk menikah dengan bupati yang sudah pernah beristri.

Film fiksi sejarah besutan Hanung ini layak diacungi jempol karena sukses membuat biopik yang demikian hidup dan jauh dari jemu. Berbeda dengan sutradara Sjuman­djaja yang membuat film berjudul R A Kartini (1984). “Itu sesuai dengan keinginan Kartini sendiri, dia bilang, ‘Panggil aku Kartini’,” ujar Hanung tentang judul filmnya saat ditemui di Djakarta Theatre XXI, Jakarta, Rabu (12/4). Sebutan Raden Ajeng bukanlah sesuatu yang teramat didambanya. Andai Kartini bisa memilih, dia ingin hidup biasa saja tanpa gelar dan kewajiban orang-orang ningrat pada masa itu.

Sukses sebelum dirilis

Film Kartini baru akan tayang di bioskop, Rabu (19/4), jelang Hari Kartini yang biasa diperingati 21 April. Namun, animo masyarakat akan film ini sudah sangat tinggi.

Bukan tanpa alasan bila kebanyakan film Indonesia menjaga eksklusivitas sebelum tayang perdana. Film ini justru terbuka bagi berbagai kemungkinan, termasuk nonton bareng (nobar) sebelum resmi tayang di bioskop. Kesempatan itu disambut komunitas, organisasi, dan perusahaan untuk nobar, seperti yang dilakukan calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Putri Indonesia, atau komunitas perempuan profesional dan pengusaha.

Alhasil, respons positif tentang film itu pun sudah membanjir linimasa media sosial sekalipun belum resmi tayang. Terlepas dari momentum peringatan Hari Kartini, film ini memang amat layak ditonton.

Kita dibawa ke suasana kehidupan masyarakat Jawa tempo dulu, dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya. Akting sederetan aktris kawakan yang terlibat, seperti Christine Hakim, amat mengaduk emosi dan mengundang tangis. Tampilan visual film ini pun amat menarik.

Kisah Kartini yang diangkat dalam film ini masih memiliki relevansi dengan kondisi masa kini sekalipun berbagai kesetaraan sudah bisa ditemukan di banyak bidang. Pada akhirnya, kemerdekaan yang paling hakiki berawal dari pembebasan dari belenggu pikiran dan untuk itu. Pendidikan menjadi kunci gerbangnya. (M-4)

Komentar