Jeda

Sabarkan Istri dan Dicekik Pasien

Ahad, 9 April 2017 12:03 WIB Penulis:

MI/ABDILLAH M MARZUQI

KEBERHASILAN dalam melewati masa-masa depresi tidak bisa dilepaskan dari peranan orang lain. Yana dan Firman ialah sepasang suami-istri yang berpegang tangan. Firman mampu menjadi sosok suami yang memberikan keteguhan dan kekuatan bagi Yana. Firman pula yang menjadi pendamping dan pendorong Yana untuk tidak menyerah sembari mencari jalan kesembuhan.

Tak dapat disangkal, Firman juga terguncang ketika mendapati kabar tentang kematian bayi yang ada dalam kandungan Yana. Alih-alih terbawa situasi dan terjerembap pada keputusasaan, Firman mampu memainkan perannya sebagai suami. Ia tahu bahwa penyebab istrinya depresi ialah karena kehilangan bayi. Firman lalu berusaha menyabarkan istrinya.

"Saya sebagai suami memberikan masukan sabar dulu karena yang paling tepat saat itu adalah nerima dulu, sepahit apa pun terima dulu, jangan dilawan," terang Firman.

Firman juga mendukung Yana bergabung dengan komunitas peduli trauma. Bagi Firman, kebahagiaan ialah ketika melihat istrinya sehat lahir dan batin. Selain Firman, kisah lain yang patut diapresiasi ialah seperti konselor Madani Mental Health Care Samsuludin. Ia merupakan sosok yang mencurahkan perhatian kepada para penderita penyakit kejiwaan.

Delusi

Suatu ketika, ia harus menjemput pasien penderita depresi yang sudah parah. Pasien itu merupakan pekerja di bidang keuangan. Saking parahnya, pasien tidak mampu bicara sewajarnya, lebih sering ngomong ngelantur. Bahkan, pasien sering mengalami delusi atau waham tentang keagamaan. Samsuludin bertugas menjemput pasien lalu membawanya ke Graha Madani.

"Waktu itu dia stres. Dia memang orang pintar-idealis. Kita lihat tingkat keparahannya sudah parah banget, sampai BAB saja enggak bisa," kata Samsuludin.

Samsuludin tidak kehabisan cara untuk membujuk pasien agar mau dibawa. Ia mengatakan komunitasnya juga membahas Tuhan. Ia juga mengatakan diutus Tuhan untuk menjemputnya. Samsuludin mengajak pasien untuk ikut bergabung dan belajar dengan komunitasnya.

Seiring dengan berjalananya masa pengobatan, pasien sudah mulai membaik. Pasien mulai menyadari sakit yang dideritanya dan waham keagamaannya juga mulai berkurang. Samsuludin pun berniat untuk tahap selanjutnya, yaitu pasien disiapkan untuk memasuki dunia sosial.

Samsuludin datang ke tempat pasien bekerja dan meminta pasien agar diperbolehkan masuk. Sebagai bagian dari terapi, pasien juga diberi lingkungan kerja yang nyata seperti sebelumnya.

Samsuludin senang pasiennya sudah mulai bisa memasuki dunia sosial seperti sebelumnya. Suatu ketika, Samsuludin mengunjungi pasiennya di tempat kerja. Tepat pukul 12.00 saat pasien harus minum obat, ternyata Samsuludin lupa membawanya. Alhasil, si pasien tiba-tiba mencekik Samsuludin dan berkata bahwa Samsuludin-lah yang menculiknya dari rumah.

"Lucunya itu, lupa minum obat, yang tadinya sudah baik-baik sama orang, datang kedua kalinya saya dicekik," kenangnya sambil tertawa.

Profesi guru bimbingan konseling ialah profesi yang sangat penting dan mulia, tapi masih kurang dikenal dan dihargai di Indonesia. Padahal, mereka bisa mendampingi dan menjaga anak-anak di usia terpenting, menemukan minat dan bakat, serta menjaga dari berbagai masalah yang bisa memengaruhi kesehatan jiwa anak.
Para profesional kesehatan jiwa, pekerja sosial, serta organisasi konsumen kesehatan jiwa harus merangkul dan mempromosikan profesi ini. Bersama-sama kita bisa memperjuangkan perbaikan sistem kesehatan jiwa nasional. Abdillah M Marzuqi/M-2

Komentar