Jeda

Berjuang Menjaga Kewarasan

Ahad, 9 April 2017 11:57 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

PADA suatu petang, di tengah guyuran hujan, Nur Yana Yirah berjalan ke luar rumah. Sembari menggendong bayinya yang masih merah, Yana--begitu perempuan berhijab itu biasa disapa--perlahan menyeret kakinya ke sebuah danau.

Rintikan air hujan yang membasahi tubuh dia dan bayinya tidak dipedulikan. Dinginnya suhu udara lantaran keluar tanpa membawa payung di tengah lebatnya curahan air tidak bisa menahan keinginan perempuan 30 tahun itu untuk menenggelamkan dirinya bersama sang buah hati ke dasar danau.

Dengan tatapan kosong dan raut muka tanpa ekspresi, Yana bergeming memasuki danau tersebut. Saat dinginnya air danau menyentuh paha, dari belakang sebuah tangan secara lembut menarik tubuh dan bayinya ke luar.

Firman, sang suami, berhasil membujuk istrinya untuk mengurungkan niat bunuh diri dengan cara menceburkan diri bersama buah hati mereka, Hana Nabila, ke dasar danau. Mereka berdua pun menangis sesenggukan di tepian.

Ini merupakan percobaan bunuh diri kedua yang dilakukan wanita yang berdomisili di Tangerang tersebut. Sebelumnya, dia juga sempat ingin mengakhiri hidupnya dengan menenggak cairan pembersih lantai. Namun, kata Yana, percobaan bunuh diri yang terakhir ialah yang terparah. Pasalnya, kali ini dia juga membawa-bawa sang buah hati untuk ikut serta. Dari situlah dia dan suami sadar bahwa mereka butuh pertolongan.

Saat ditemui di kediamannya, di Cisauk, Tangerang Selatan, perempuan bertubuh sintal ini menceritakan awal mula dirinya mencoba memilih jalan yang dilarang keras semua agama itu.
Semua kejadian itu berawal pada 2011. Saat itu, dia dan suami tengah bersukacita lantaran Yana didiagnosis dokter hamil anak pertama. Kabar tersebut tentu sangat menggembirakan mereka berdua. Maklum, sudah empat tahun menikah, belum juga pasangan muda ini mendapatkan momongan.

Segala cara, seperti ikut berbagai program kesuburan di klinik dengan biaya cukup mahal pun, mereka tempuh. Itulah sebabnya, harapan mereka berdua sangat tinggi pada kehamilan itu. Sikap antusias juga ditunjukkan orangtua Yana. Mereka memberikan berbagai perlengkapan bayi untuk menyambut kelahiran sang cucu.
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, hanya dalam sekejap, sukacita itu berubah menjadi bencana. Hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan sang calon jabang bayi sudah meninggal di dalam kandungan.

"Jantungnya sudah tidak berdetak. Padahal dua minggu sebelumnya hasil pemeriksaan kondisinya baik-baik saja," kisah Yana menerawang.

Lantaran kondisi itu, dia terpaksa menjalani bedah sesar (cesarean section) untuk mengeluarkan janin anaknya yang sudah meninggal. Dari situlah bibit-bibit depresi muncul di diri Yana.
Terlebih, selang lima bulan kemudian kembali hamil, Yana mengaku cemas bila peristiwa sebelumnya bakal kembali terjadi. Belum lagi, trauma bedah sesar masih menghantui dirinya. "Hampir dua tahun saya selalu bermimpi buruk. Bayangan ruang operasi, gunting, dan darah saat menjalani sesar kerap muncul di dalam mimpi," tutur dia.

Diperparah stigma

Hal itu, lanjut dia, diperparah dengan tekanan dari luar. Saat bayi dari kehamilan keduanya lahir, banyak tamu dan kerabat yang datang. Namun, sejumlah komentar seperti, "Kenapa bayinya terlalu kurus?" "Kenapa tidak diberi susu formula?" dan lainnya, membuat dirinya semakin tertekan.
Yana mengaku merasa dirinya sebagai ibu yang tidak cakap, ibu yang jahat pada bayinya, dan tidak berguna. Berbagai tekanan itu membuat dirinya mengalami sejumlah masalah depresi pascapersalinan, yaitu baby blues syndrom dan postpartum depression. Dari situlah mulai muncul berbagai gejala depresi pada diri Yana, dari tidak punya semangat hidup, takut bertemu dan bersosialisasi dengan orang, sampai suka menangis tanpa sebab.

Itu semua berlangsung sekitar dua sampai tiga tahun.
Pascakejadian ingin bunuh diri ke danau pada 2013 itu, Yana baru menyadari dia butuh bantuan. Dia mulai sadar dan ingin segera bangkit dari keterpurukan. Sang suami kemudian mengajak dia ke komunitas Peduli Trauma, tempat para penyintas trauma bergabung untuk saling menguatkan.

Ia sering datang ke kegiatan komunitas Peduli Trauma sembari menjalani terapi dengan psikiater hingga akhirnya benar-benar pulih dari trauma dan bisa tertawa karena hal-hal kecil lagi.
Kini Yana mengaku dirinya sudah bisa mensyukuri hidup dan menikmati perannya sebagai ibu. Berangkat dari pengalaman mengalami depresi pascamelahirkan, dirinya mendirikan komunitas Mother's Hope dengan tujuan membantu ibu lain yang pernah mengalami kondisi serupa.

"Kini anggota komunitas Mother's Hope sudah mencapai 4.000-an orang di Facebook. Kita juga sering kumpul untuk diskusi," ujar ibu dua anak ini di bilangan Jakarta Timur, yakni di Gedung Grha Madani, tempat rehabilitasi dilakukan terhadap pasien penderita miras, narkoba, dan skizofrenia. Tempat ini juga untuk terapi bagi para penderita penyakit mental lain, seperti stres, cemas, dan depresi.

Di sana terdapat banyak pasien dengan latar kondisi dan sebab yang berbeda. Salah satu pasien bernama Yono, misalnya, berada di fasilitas kesehatan mental itu sejak Januari. Orangtua Yono berkeras untuk kesembuhan mentalnya.

"Mama taruh di sini. Saya enggak tahu apa-apa. Tiba-tiba tidur," terang Yono yang kala itu didampingi salah seorang konselor dari Madani Mental Health Care.

Yono ialah salah satu pasien yang sudah bisa berbicara dengan orang lain. Sebelumnya ia lebih banyak berdiam dan mengurung diri di dalam kamar. Ia merasa tidak bisa ketika berada berhadapan dengan orang lain. "Ke mana-mana itu kayak orang-orang bikin jengkel semua. Kayak sengaja bikin marah," terangnya.

Selain itu, Yono mengaku kesulitan untuk tidur, bahkan cenderung takut untuk tidur. Selalu ada bayang-bayang menakutkan dalam benaknya. Paling lama ia hanya bisa tidur selama 3-4 jam. Namun, setelah masa pengobatan berjalan separuh, ia mengaku sudah bisa tidur seperti yang dijadwalkan yakni pukul 21.00. Yono juga beberapa kali mencoba bunuh diri. Ia mengaku dua kali mencoba bunuh diri.

Dekati dan dampingi

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Keswa dan Napza Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Fidiansjah menjelasan, di kalangan awam, depresi sering diartikan sebagai gangguan psikotik atau skizofrenia (gila). Padahal, itu jauh berbeda. Gejala utama depresi ialah perasaan sedih, minat menurun, mudah lelah, lalu diikuti dengan gejala tambahan lainnya,
misalnya penurunan konsentrasi, kepercayaan diri, harga diri, merasa bersalah, kurang tidur, dan pesimistis. Gejala-gejala seperti itu berlangsung selama dua minggu atau lebih.

Jika di lingkungan ada yang mengalami depresi, sebaiknya kita dekati dan dampingi. Kita bisa menawarkan bantuan untuk dapat menjadi orang yang mendengarkan apa yang jadi beban pikiran dan perasaannya. "Ajaklah orang tersebut untuk menemui profesional kesehatan jiwa atau tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan yang menerima konseling atau layanan kesehatan jiwa," papar dia.
Sejatinya depresi itu ialah jenis penyakit. Dia tidak ada hubungannya dengan rasa kurang bersyukur atau bahkan gila. Stigma negatif seperti itu harus dihilangkan di awam agar penderita depresi bisa ditangani sedini mungkin. (M-2)

Komentar