Tifa

Bersanding dalam Beda

Ahad, 9 April 2017 18:00 WIB Penulis:

MI/ABDILLAH M MARZUQI

KANVAS itu terlihat berbeda dengan yang lain. Selain ukurannya yang lebih besar jika dibandingkan dengan yang lain, kanvas juga menempati tepat di ujung ruang pamer. Titik menjadi istimewa sebab terlihat jelas dari pintu masuk, bahkan dari sebelum memasuki ruang pamer.

Lukisan itu paling besar dengan bidang horizontal yang punya panjang tiga kali dari lebar bidang gambar (130 cm X 400 cm). Warna putih dengan titik-titik hitam mengepung lanskap utama ikon Ibu Kota, Istana, dan Monas. Sangat mudah untuk menangkap judul dari visual lukisan karya Barlin Srikaton itu. Dengan gambaran demikian, penikmat lukisan akan terbawa pada momen tahun lalu, 4 November 2016. Unjuk rasa besar-besaran itu dilukiskan dengan apik ketika gedung istana presiden dan Monas di Jakarta seperti terapung di tengah lautan manusia dalam warna putih.

Itulah karya Barlin Srikaton berjudul Aksi 411 yang dipamerkan dalam Pameran Lukisan Bhinnekart yang dihelat pada 1-9 April di Balai Budaya Jakarta.

Barlin tidak sendirian dalam pameran itu, masih ada enam perupa lain yang juga berturut dalam pesta keragaman seni rupa itu. Mereka ialah Biyan Subiyakto, Dien Yodha, Hery Gaos, Rahardi Hadining (Heng), Sabariman Rubianto Sinung, dan Sungging Priyanto. Pameran ini dikuratori Efix Mulyadi.

Tajuk Bhinnekart terasa sangat dekat dengan kondisi saat ini. Salah satunya ialah soal keberagaman. Pemandangan langka itu menjadi indah di dalam lukisan Barlin itu menjadi bahan renungan tentang Bhinneka Tunggal Ika. Sekadar slogan atau menjadi cara laku? Sekadar diucapkan atau dilaksanakan? Sekadar dalam pikiran atau kenyataan? Perkara semacam itu lalu menggugah tujuh perupa untuk ikut melakukan unjuk rasa dalam wilayah seni.

"Bhinnek merujuk pada kata pertama di dalam semboyan kebangsaan yaitu Bhinneka Tunggal Ika, sedangkan art merupakan kosakata dalam bahasa Inggris yang diandaikan telah dikenal luas masyarakat," terang Efix dalam tulisan pengantarnya.

Memperjuangkan kebinekaan

Tajuk itu membawa pada artian tentang seni yang beragam. Bisa juga diartikan sebagai keragaman untuk menafsir tema yang diusung maupun di dalam ungkapan artistik. Atau olah seni untuk memperjuangkan kebinekaan. Menurut Efix Mulyadi, sudah tentu ketujuh perupa berbeda di dalam menangkap, menafsir, dan mengungkapnya. Namun yang lebih penting adalah ketika mereka berpihak pada keberagaman dan kemajemukan.

"Hajatan ini juga merupakan ujud keterlibatan mereka untuk ikut mendorong tumbuhnya pengertian dan kesadaran akan hakikat kemajemukan di antara warga," lanjutnya.

Dalam kerja artistik, ketujuh perupa itu juga sangat beragam. Misalnya Hery Gaos memilih jalan berkarya nonfiguratif. Ia melepaskan pijakan bersama pada bentuk dan gejala visual dari kehidupan nyata maupun sekadar rekaan atau menggantinya dengan beragam garis atau warna dan mungkin juga konstruksi dari citra baru yang tidak dikenal.

Rahardi Handining menggunakan makhluk benang rajut sebagai sosok utama dalam kanvasnya. Sabariman Rubianto Sinung dengan karya yang cenderung monokromatik. Sungging Priyanto dengan gagasan menyatunya antara makan dan musik. Sekaligus ia bermain dengan penanda.

Dien Yodha menawarkan sapuan-sapuan warna yang tidak sepenuhnya mempertegas bentuk figur utama, tetapi lebih menjadi pembuat suasana. Biyan Subiyanto menggambar di atas karung goni dan membuat sosok-sosok perempuan yang selalu tampil mendongak atau menengadah. Melihat karya dari ketujuh perupa itu seolah menggugah kembali bahwa kebinekaan itu benar adanya sekaligus mengingatkan bahwa perbedaan itu bisa bersanding harmonis. Abdillah M Marzuqi/M-2

Komentar