Tifa

Beragam Gerak dalam Satu Panggung

Ahad, 9 April 2017 17:00 WIB Penulis: Abdilah M marzuqi

MI/ABDILLAH M MARZUQI

PANGGUNG itu memang tidak tetap. Artistik dalam panggung kerap berubah. Awalnya, panggung berisi meja dan bangku. Namun, seiring waktu, properti panggung berubah, menjadi balok kayu yang besarnya melebihi ukuran paha. Bahkan papan dengan ditopang dua kaki pun tampak. Sebab yang tampil kali itu bukan hanya satu kelompok tari, melainkan ada enam kelompok gerak yang tampil. Setiap kelompok membawa gaya masing-masing, mulai yang tradisi hingga kontemporer.

Itulah yang menjadikan Jakarta Dance Meet Up (JDMU) sangat menarik. Helatan itu diadakan Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada 31 Maret 2017 di Gedung Kesenian Jakarta.

JDMU edisi perdana menampilkan enam komunitas dengan keragaman genre, yakni Cipta Urban TIM, Citra Art Studio, EE Production, EKI Dance Company, Gigi Art of Dance, dan Sanggar Tari Limpapeh yang akan menampilkan karya dari 12 koreografer muda. Beberapa di antaranya Aboogrey Lobubun, Dance Lab, Dedi Maniakori, Eyi Lesar, Gege Diaz, Kresna Kurnia Wijaya, Putri Jingga Aura Ridwan, Siswanto 'Kojack' Kodrata, Siti Suryani, Stenly Patty, dan Takako Leen. Sebagai pembuka panggung, koreografer Eyi Lesa dari EE Production menampilkan karya berjudul Tomorrow. Karya ini diangkat dari Alkitab Injil Matius yang membawa pesan jangan takut. Selain itu, koreografer Eyi Lesar mendasari penciptaan karya ini sebab merasa gelisah terhadap dunia tari kontemporer Indonesia.

Kondisi itu lalu membuatnya untuk terus bereksplorasi dengan tubuh dalam tari. Baginya, tari tidak harus mengeluarkan banyak energi ataupun keringat, tetapi menyampaikan lebih kepada pesan dalam sebuah karya. Karya Tomorrow merupakan bentuk eksplorasi dari gerak tubuh yang dipadu dengan pencahayaan yang lain dari biasa. Selain itu, pendekatan drama diwadahi dalam koreografi ini ketika antarpenari berdialog untuk membangun cerita sekaligus mempertegas pesan yang diusung.

Berlanjut pada kelompok Cipta Urban TIM. Komunitas ini awalnya sekelompok anak muda pekerja seni yang hampir setiap malam melakukan proses latihan di lingkungan Taman Ismail Marzuki (TIM). Mereka lalu membentuk wadah untuk mengembangkan talenta seni. Berawal dari pelatihan street dance, kini Cipta Urban TIM juga membuat program pelatihan vokal dan teater dengan mengambil konsep urban sebagai identitas dalam berkarya.

Cipta Urban TIM menampilkan karya dari empat koreografer, yaitu Gege Diaz dalam karya berjudul Kehidupan Masyarakat Larantuka, Aboogrey Lobubun dengan Filosofi Bermain Bola, Stenly Patty dengan Koreografi Urban Hip-Hop, dan Dedi Maniakori dengan Dejavu.

Semua karya koreografi yang disajikan dengan mengambil bentuk yang amat dekat kehidupan sehari-hari sehingga seolah penonton tak lagi berasa melihat tari yang berjarak dari pengalaman sehari-hari, tetapi melihat citra keseharian yang muncul di atas panggung.

Seni tari dan musik

Masih ada Citra Art Studio (CAS) yang menampilkan seni tari dan musik Nusantara dengan berbasis pada tradisi dan kontemporer. Koreografer CAS Siti Suryani Sedihau menampilkan karya yang mengangkat fenomena kehidupan masyarakat Melayu yang berada di tepi pantai di daerah Sedanau, Natuna, Kepulauan Riau.
Karya itu sangat kental dengan nuasa tradisi. Ketika kehidupan nelayan diangkat ke atas temaram lampu panggung, saat mereka harus berhadapan dengan musim paceklik ikan.

Untuk Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI) Dance Company, koreografer EKI akan menampilkan Last Bow karya Takako Leen, yang terinspirasi oleh tari kipas Jepang yang dimainkan Geisha. Koreogarfi itu menceritakan regenerasi Geisha. Karya Siswanto Kojack Kodrata berjudul Preman Jalanan menggambarkan preman jalanan di masa setelah bumi kiamat. Ketika semua sumber daya telah habis merekalah yang mampu bertahan, sebab sudah terlatih bertahan hidup dalam kondisi serbakekurangan.

Selain itu, masih ada koreografer Kresna Kurnia Wijaya dalam judul Ceker Geger yang menggambarkan suasana arena sabung ayam, serta karya Beautiful Bots hasil kolaborasi Takako Leen, Siswanto Kojack Kodrata, dengan Michael da Lopez. Aransemen vokal dan musik oleh Siska Napitupulu dan Elly Raranta.

GIGI Art of Dance menyajikan karya berjudul Mi Casa yang dikreasi oleh Dance Lab. Koreografi tarian terinspirasi oleh kata rumah dan persepsi mengenai makna rumah. Dalam karya itu, terdapat eksplorasi musik, gerak, narasi sehingga menghasilkan karya yang utuh dan solid.

Terakhir adalah Sanggar Tari Limpapeh yang mengangkat kultur kebudayaan Minangkabau. Koreografer Putri Jingga Aura membawakan karya berjudul Anak Sasian yang berkisah tentang anak yang suka belajar tentang ilmu keagamaan dan silat untuk bekal merantau.
JDMU adalah sebuah platform untuk merangkul komunitas tari di Jakarta. Program ini bertujuan menggiatkan kembali pertunjukan tari di Jakarta dan memunculkan koreografer muda masa depan. Selain itu, wadah ini berguna untuk bersama mencari solusi atas persoalan dunia tari saat ini.

Anggota Komite Tari DKJ Helly Minarti yang juga anggota komite tari di DKJ Dunia Tari Indonesia mendapati persoalan serius yakni miskin penggalian. "Tubuh tari Indonesia kadang terjebak dalam eksplorasi yang spektakuler semata tapi miskin wacana, padahal sejarahnya sangat kaya dan jika saja dibarengi pemikiran kritis, sangat potensial menyumbang pada percakapan global tari dunia," cetus Helly.

DKJ menyediakan fasilitas gedung pertunjukan, sedangkan komunitas membiayai produksinya. Pertemuan antarkomunitas ini akan terjadi dalam tiga kali panggung pertunjukan, yaitu Maret, Agustus, dan Oktober 2017. Sebanyak 25 komunitas telah mendaftar untuk berpartisipasi.

Panggung JDMU telah menyatukan komunitas itu. Membuat mereka punya wadah untuk bertukar gagasan dan saling berkomunikasi. Tak ada beda, tradisi, maupun kontemporer. Itu adalah potensi anak bangsa. Sebab keragaman adalah fitrah. Kebinekaan adalah keniscayaan. (Abdillah M Marzuqi/M-2)

Komentar