PIGURA

Nonpribumi

Ahad, 9 April 2017 16:00 WIB Penulis: Ono Sarwono

DI tengah masih primitifnya sistem pemilihan pemimpin di banyak negara, Pancala menjadi salah satu negara dalam dunia wayang yang paling asasi dan modern. Dalam hal itu, mereka telah menanggalkan SARA.

Pancala melepaskan belenggu isu-isu primordial. Syarat menjadi pemimpin pun disederhanakan, yang utama mampu dan cepat memakmurkan rakyat sekaligus membawa ke kemajuan negara. Bila memenuhi kualifikasi ini, siapa pun ia, berhak dan layak dipilih.
Perubahan radikal roh 'konstitusi' negara itu berkat kebesaran jiwa Raja Pancala Prabu Gandabayu. Ia memastikan pemimpin Pancala tidak lagi mesti pribumi dan sekeyakinan dengan mayoritas warga. Yang baku, selain syarat di atas, ia nasionalis, jujur, dan amanah.

Langkah bersejarah tersebut terukir ketika Gandabayu memutuskan lengser keprabon (turun takhta). Berdasarkan paugeran (aturan), yang menggantikannya mestinya sang putra mahkota. Namun, karena suatu hal, skenario itu buntu. Eloknya, Gandabayu justru menemukan jalan yang rahayu.

Rakyat mendukung

Prabu Gandabayu dikisahkan sebagai raja yang arif bijaksana. Dari pernikahannya dengan permaisuri, Gandarini, ia memiliki dua anak. Yang sulung putri bernama Gandawati. Sementara itu, yang kedua, lahir laki-laki diberi tetenger (nama) Gandamana. Ketika dewasa, Gandamana diangkat sebagai putra mahkota.

Maka, ketika memutuskan pensiun, Gandabayu langsung menyerahkan singgasana Pancala kepada Gandamana. Sentana dalem, nayakapraja, paranpara negara, dan seluruh rakyat pun menyambut dengan sukacita. Mereka berharap Gandamana segera dinobatkan sebagai raja baru. Dari berbagai sisi, Gandamana dinilai cakap dan kapabel sebagai penguasa. Selain muda nan perkasa, ia cerdas dan menguasai ilmu pemerintahan dan tata negara. Lebih dari itu, ia sakti mandraguna jayeng palugon. Oleh karenanya, Pancala pasti akan semakin maju, pun tidak bakal ada negara lain yang berani usil atau mencoba mengganggu, apalagi berniat mencaplok.

Namun, apa yang terjadi? Gandamana menolak menjadi raja. Pilihannya, ia ingin total mengabdikan jiwa raga kepada Prabu Pandudewanata, Raja Astina. Ia merasa itu darma terbaik hidupnya. Dalam laju kariernya, di kelak kemudian hari, ia diangkat Pandu menjabat patih.

Gandamana dengan hormat mengembalikan 'mandat' negara sebagai putra mahkota kepada bapaknya. Ia meminta maaf kepada seluruh rakyat dan orangtuanya atas keputusannya yang terkesan membangkang.

Betapa kecewanya Gandabayu. Betapa tidak. Anak yang ia gadang-gadang meneruskan kepemimpinan di Pancala, glethek pethele (kenyataannya) nihil. Namun, ia tidak ingin menganggap putranya durhaka. Pilihan mengabdi kepada Pandu bukan langkah saru atau keliru.

Dari pemahamannya, menjadi bagian dari keluarga Pandu merupakan kehormatan tiada tara. Dunia mengenal betul nama besar Pandu sebagai raja yang ambathara, seagung dewa. Astina yang ia pimpin menjelma menjadi negara adidaya. Banyak negara lain yang suka bermitra dan bangga menjadi 'bawahan' Astina.

Persoalannya, lalu siapa yang akan menduduki takhta Pancala setelah ditinggalkan Gandabayu? Tidak terlintas dalam benak Gandabayu bahwa Pancala dipimpin putrinya. Namun, ketika sampai pada puncak kebingungannya, Gandabayu seperti mendapat 'pencerahan' dari langit. Ia kemudian menjatuhkan pilihan kepada menantunya, Sucitra (suami Gandawati), sebagai penggantinya.

Namun ada kekhawatiran. Apakah pilihannya itu akan 'direstui' rakyatnya. Karena, selain bukan putra mahkota, Sucitra juga bukan warga pribumi dan keyakinannya pun tidak sama dengan yang dipeluk mayoritas bangsa Pancala. Akan tetapi, itu sudah menjadi kebulatan tekatnya.

Sucitra ialah putra Resi Dwapara dari Atasangin. Saat usianya menginjak dewasa, ia meninggalkan kampung halamannya untuk mengabdi kepada Pandu. Atas kepandaian dan pribadinya yang unggul, Pandu menerima Sucitra sebagai bagian dari keluarga besarnya.

Pada suatu hari, ketika Pancala menggelar sayembara perang tanding, Pandu mendaftarkan Sucitra untuk mengikutinya. Sayembara itu ialah, siapa saja yang mampu mengungguli kesaktian Gandamana, berhak meminang sang putri kedhaton, Gandawati.

Puluhan peserta, para kesatria dari berbagai negara, bertumbangan. Tidak ada yang bisa mengalahkan Gandamana. Lalu, tibalah giliran Sucitra. Berbekal pusaka berupa sumping (hiasan telinga) pemberian Pandu, Sucitra dengan mudah menaklukkan Gandamana. Maka, ia kemudian dinikahkan dengan Gandawati.

Ternyata, kekhawatiran Gandabayu akan adanya penolakan atas pilihannya mengangkat Sucitra sebagai raja tidak terjadi. Semua stakeholder negara, terutama rakyat, menerima sabda raja dengan legawa. Mereka tidak mempermasalahkan Sucitra yang bukan pribumi menjadi pemimpin Pancala. Maka, Gandabayu tak ragu lagi melantik Sucitra sebagai raja bergelar Prabu Drupada.

Selama memimpin, Drupada menghadapi berbagai ujian. Di antaranya, perilaku culika saudara sepupunya, Bambang Kumbayana (Druna). Dengan bantuan muridnya (Pandawa), Kumbayana merampas sebagian wilayah Pancala yang kemudian digunakan sebagai tempat Pedepokan Sokalima.

Laku hasta brata

Dalam perjalanannya, Drupada membuktikan diri sebagai pemimpin yang dapat dipercaya. Kepemimpinannya pun dinilai berkarakter hasta brata atau laku delapan watak alam. Ini konsep kepemimpinan yang dicetuskan Raja Ayodya Prabu Ramawijaya.

Kedelapan watak alam itu, yaitu Bumi, pemimpin yang tidak pernah mengecewakan rakyat. Angin, wataknya dekat dengan rakyat. Samudra, maknanya adil, bijaksana, dan mencintai rakyat. Bulan, pemimpin yang sanggup membangkitkan semangat rakyat.

Matahari, mampu menumbuhkan daya hidup rakyat. Angkasa, pemimpin yang memiliki keluasan batin dan mampu menampung semua suara rakyat. Api, berwatak tegas, menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Bintang, pemimpin yang menjadi teladan rakyat. Dengan kepemimpinan seperti itu Drupada membawa Pancala menjadi negara kuncara. Rakyatnya hidup sejahtera, ayem tenteram. Di sisi lain, Drupada memiliki putra dan putri yang menjadi mustikaning jagat, kembangnya dunia. Mereka ialah Drupadi, Srikandi, dan Drestajumna. (M-4)

Komentar