Gaya Urban

Jurus Simpel Setangguh Srikandi

Ahad, 9 April 2017 07:00 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

MI/ARYA MANGGALA

PUKULAN para perempuan itu terlihat kaku dan kurang bertenaga. Padahal, sasaran mereka hanya samsak berukuran kecil.

Perempuan-perempuan yang pada Rabu (29/3) itu berkumpul di Syena Martial Arts Center memang bukan penggemar bela diri, bahkan tidak memiliki dasar olahraga bela diri. Mereka baru diperkenalkan pada latihan pertahanan diri sederhana oleh instruktur Joe Uno.

Latihan itu sengaja dibuat sebagai respons kian meningkatnya tindak kejahatan. Ketika ancaman keamanan makin banyak, perempuan, baik yang memiliki dasar bela diri maupun tidak, dituntut untuk dapat melindungi diris sendiri.

"Sedikit banyak kaum perempuan di Indonesia harus setidaknya mengetahui dasar dari ilmu pertahanan diri. Pasalnya, tidak ada yang tahu kapan terjadi dan kepada siapa sebuah aksi kejahatan," ujar Joe yang juga instruktur bela diri taktis Brimob.

Sesuai dengan tujuan sekadar mempertahankan diri, latihan yang diajarkan Joe bukan bertujuan membuat perempuan menguasai mendalam ilmu bela diri. Meski begitu, Joe mengajarkan mental. Justru mental bertahan (survival) ini menjadi bagian pertama pelajarannya.

(Survivaldiawali dengan kemampuan menjauhkan diri atau melarikan diri dari bahaya. Kemampuan ini menurut Joe sangat penting karena tidak dapat dimungkiri kekuatan fisik perempuan umumnya lebih lemah dari pria.

"Pertama mentalitas (survival dan kedua itu melakukan apa saja untuk bisa melarikan diri. Melarikan diri dalam artian di sini sebisa mungkin menghindari diri dari perkelahian karena bagaimana pun fisik perempuan pastinya akan kalah kuat dengan laki-laki," jelas Joe.

Empat sasaran

Namun, jika kesempatan melarikan diri sudah tidak ada lagi, mau tidak mau perempuan harus siap menghadapi penyerang. Joe pun memberikan jurus atau gerakan dasar pertahanan diri yang efektif. Jurus itu dilakukan dengan mengarahkan serangan ke empat bagian tubuh yang vital.

"Sasaran itu ialah mata, leher, tulang kering, dan alat vital," sebut Joe. Dengan serangan ke empat titik itu, perempuan dapat melumpuhkan lawan tanpa perlu tenaga besar dan waktu lama.
Latihan gerakan serangan ini sekaligus menjadi bagian kedua konsep (survival dari Joe. Ia menyebut metode serangan ini sebagai Srikandi yang kepanjangan dari simple realistic integrated kembatives defense for divas. Metode tersebut sengaja memilih penulisan kembatives ketimbang combatives yang berarti pertarungan.

"Kita namakan Srikandi ini memang karena gerakan dan latihannya yang simpel, tapi cukup untuk menjaga diri dari tindak kejahatan," tambahnya.

Gerakan itu di antaranya ialah dengan membuka tangan ke arah depan untuk bersiap melakukan pertahanan dan menyerang lawan ke arah muka, mata dan leher atau tenggorok. Gerakan ini diyakini jitu karena sekuat-kuatnya fisik seseorang tetap akan takluk jika dilukai di bagian mata. Untuk menyerang bagian alat vital, perempuan bisa menggunakan paha, lutut, dan kaki.

Sementara itu, jika penyerang menggunakan senjata tajam, Joe selalu menyarankan untuk lebih dulu berdiplomasi. Bagaimana pun, penyerang yang menggunakan senjata tajam akan lebih berbahaya ketimbang tangan kosong, apalagi yang diserang tidak memiliki senjata sebagai penyeimbang.

Diplomasi berarti menuruti permintaan penyerang jika mereka menginginkan barang berharga. Namun, jika penyerang tetap melakukan penyerangan, perempuan dapat memanfaatkan benda-benda di sekitar untuk menjadi pertahanan diri.

"Pertama memang selalu saya anjurkan untuk diplomasi, tapi jika gagal bisa gunakan benda di sekeliling untuk self defense. Contohnya bisa gunakan handphone yang digenggam dengan kencang lalu serang ke pergelangan tangan lawan. Kemudian bisa gunakan pulpen dan kunci untuk juga menyerang bagian tangan lawan yang membawa senjata tajam," papar Joe.

Penting bagi pekerja luar kantor

Rini Kustiani ialah salah satu peserta yang tampak antusias dengan konsep latihan Joe. Berprofesi sebagai wartawan, Rini menilai latihan pertahanan diri itu bermanfaat baginya. "Iya kita tahu, pekerjaan kita itu jam kerjanya tidak jelas, kadang harus berangkat pagi-pagi sekali dan pulang larut malam.

Ditambah lebih banyak di luar kantor, jadi saya pikir mengetahui sedikit banyak cara bertahan diri dari ancaman bahaya itu penting sekali," tutur perempuan 35 tahun itu. Tidak hanya untuk bekal pertahanan diri, Rini menilai latihan tersebut dapat menguji kepekaan melihat situasi dan juga melatih kekuatan dan kebugaran tubuh.

"Kita jadi lebih peka dan sensitif serta tahu bagaimana cara bela diri ketika mendapat serangan seperti dicuri, dirampok atau bahkan tindakan yang lebih buruk lainnya," kata Rini.

Peserta lainnya, Benedikta Desi, menilai latihan seperti ini sangat membantu dan menambahkan kepercayaan dirinya jika sedang terjadi sesuatu. Di sisi lain, ia masih belum yakin apakah dapat menerapkan latihan tersebut saat kondisi bahaya terjadi. Meski begitu, Benedikta tetap menilai penting agar latihan ini lebih banyak disosialisasikan kepada perempuan-perempuan lain yang banyak menghabiskan banyak waktu di luar rumah. Terlebih tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta yang tingkat kriminalitasnya tinggi. (M-3)

Komentar