Pesona

Masa Kini dari Masa Lampau

Ahad, 9 April 2017 05:31 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari

MI/Panca Syurkani

Untuk koleksi terbaru di Fashion Nation, Andreas Odang terinspirasi oleh gaya busana perempuan Myanmar di era 1930-an.

PENELUSURAN daring yang dilakukan Andreas Odang terhadap dokumentasi budaya lampau di wilayah sepanjang lintasan garis Indonesia hingga Myanmar (Burma) membawa kejutan tersendiri bagi sang desainer. Di sebuah foto yang dibuat di pedalaman Myanmar pada 1930-an, terlihat perempuan sedang merokok bersama anaknya. Bagian paling menarik bagi Odang ialah busana mereka yang berupa jump suit atau terusan celana.

Pada foto lainnya, lagi-lagi ada busana yang menarik, yakni atasan serupa jaket bomber, tapi berkerah tinggi. Busana ini dikenakan perempuan yang terdokumentasi sedang minum teh.

Inspirasi dari busana-busana zaman dulu di wilayah yang lebih suka ia sebut sebagai Indochina itulah yang membuat Odang mengaku mengeluarkan koleksi terbaru. Dengan tema La memoire, koleksi itu diperagakan dalam acara Fashion Nation Eleventh Edition di Senayan City, Jakarta, Kamis (6/4).

Inspirasi busana dari foto lawas itu kemudian dikembangkan Odang. Ia juga mengakomodasi kebutuhan perempuan berhijab masa kini. Seperti pada jaket bergaya kimono dengan kerah dan material tenun berpadu dengan celana panjang berpotongan lebar. Kerah cheongsam, struktur bahu pakaian adat padang, ia terapkan dalam perpaduan material tenun dan bahan lainnya, seperti organza, jacquard, duchess, juga taffeta.

Warna-warni dokumentasi foto-foto tua seperti emas redup, hijau tua, dan cokelat menjadi pilihan Odang. Tampilannya eklektik, baik dari segi pilihan warna maupun garis rancang. Tidak hanya itu, Odang juga menonjolkan unsur Indonesia lewat tenun.

"Tantangannya bagaimana membuat tenun lebih modern. Membuatnya dalam garis potong apa pun, tetapi tidak menghilangkan nyawa si tenun itu. Saya juga menghadirkan mix n match untuk perempuan berhijab, ingin bisa dipakai semua perempuan," kata Odang seusai konferensi pers di Fashion Nation Eleventh Edition Nouveau, Kamis (6/4).

Kebebasan berpikir

Selain Odang, gelaran Fashion Nation hari itu menampilkan karya Sapto Djojokartiko dan Yogie Pratama. Alasan pemilihan ketiga desainer lokal, dikatakan Marketing Director Senayan City Halina Ng, ialah karya desainer lokal sudah mampu bersaing dengan karya desainer luar. Sebabnya pula, Fashion Nation tahun ini tidak menampilkan desainer luar negeri.

Sapto dan Yogie menonjolkan kebebasan untuk kaum perempuan. Sapto merepresentasikan kebebasan seseorang untuk berpikir dan bergaya. Kebebasan tersebut didasari sudut pandang tiap orang yang berbeda.

Sapto menerjemahkan konsepnya dalam busana serba hitam yang terkesan sederhana yang sebenarnya memiliki detail-detail yang menawan. Seperti pada gaun panjang dengan kerutan di bagian pinggang dengan potongan lurus dan longgar, terdapat ukiran-ukiran yang indah saat diamati lebih dekat. Penggunaan material yang menerawang menyatu dengan warna hitam memberikan kesan seksi dan dramatis sekaligus. "Koleksi kali ini banyak menerapkan teknik layering. Semoga setelah presentasi ini, kami bisa terus memenuhi kebutuhan pasar untuk produk evening wear ini," imbuh Sapto.

Sementara itu, Yogie memilih warna merah untuk karya rancangnya yang bertema Scarlet. Yogie masih setia dengan potongan gaun-gaun malam, tapi kali ini ia berusaha memberikan potongan yang sederhana tapi dramatis.

Contohnya gaun tanpa lengan dengan garis belah dada yang hampir menyentuh pinggang yang dipermanis dengan ruffles bertumpuk. Koleksi semodel blazer tanpa kancing, tapi di bagian pinggang diberi volume berpadu dengan celana panjang warna senada.

"Koleksi kali ini benang merahnya untuk mengakomodasi kebutuhan karakter setiap perempuan. Pengaplikasian detail-detailnya pun untuk lebih nonjolin karakter, dan bisa meningkatkan kepercayaan diri maupun personalitas perempuan tersebut," pungkasnya. (M-3)

Komentar