Foto

Semangat kembali Menyadap

Ahad, 9 April 2017 00:31 WIB Penulis: M Taufan SP Bustan

MI/M Taufan SP Bustan

DI bawah sinar mentari yang belum terik, ­Patwel Balende bersemangat menuju kebun karetnya. Sesampainya di kebun yang berada di sekitar Desa Pa’awaru, Kecamatan Lembo Raya, Kabupaten Morowali Utara, Patwel bekerja membuat jalur penyadapan di pohon-pohon. ­Senyumnya merekah ketika memperlihatkan lateks (getah) yang telah menjadi lum (karet mentah). Hal yang sama juga terlihat di wajah Ahmad, petani lainnya.

Menjadi petani karet memang merupakan profesi 90% warga desa berpenduduk 8.402 orang itu. Perkebunan karet di Morowali Utara khususnya di Lembo Raya masuk awal 1987 setelah ditanam para orangtua dulu.

Perkebunan karet terus berkembang setelah masuknya perusahaan PT Perkebunan Nusantara 23 milik negara yang sekarang menjadi PT Perkebunan Nusantara 14 awal 1990.

Masyarakat di sana pun diberi kesempatan untuk mengelola perkebunan melalui tanaman plasma yang disiapkan perusahaan.

Asam garam telah mereka rasakan akan kesetiaan profesi itu. Patwel dan warga seprofesinya pernah merasakan tahun-tahun kenikmat­an harga lum (karet mentah) yang tinggi. Namun, tidak sebentar pula mereka pernah sengsara.

Tahun 1994 merupakan masa ketika masyarakat harus menanggalkan perkebunan karet. Hanya tinggal segelintir warga yang bertahan menjadi petani karet.

Alasan utamanya bukan hasil panen yang tidak baik, melainkan harga jual yang rendah hingga memaksa warga beralih menjadi petani biji kakao dan sawit. “Di awal-awal itu harga tinggi mencapai Rp23 ribu per kg. Setelah itu turun ke Rp7.500 per kg hingga ke harga terendah Rp5.000 per kg. Di harga itu kemudian banyak masyarakat yang berhenti mengurus karet,” kenang Patwel Balende.

Kini masyarakat di Lembo Raya kembali bersemangat menjadi petani karet seiring dengan harga yang kembali tinggi, yakni di kisaran Rp10 ribu hingga Rp12 ribu per kg. Semangat mereka pun terkatrol dengan rencana pemerintah daerah mendirikan pabrik pengolahan.

“Sudah lama kami menginginkan adanya pabrik di sini (Lembo Raya) hanya dulu begitu susah. Sekarang alhamdulillah pemerintahan yang baru sudah merencanakan pembangunan pabrik itu,” kata Tokoh Masyarakat Lembo Raya, Isro’i.

Rencana pembangunan pabrik itu termasuk salah satu kontrak politik sejumlah warga kepada dengan calon bupati dan wakil bupati Morowali Utara yang kemudian terpilih. Kini mereka berharap kontrak politik itu dapat terwujud sepenuhnya. (M-3)

Komentar