Internasional

Nyanyian Kelaparan Bocah Pengungsi

Kamis, 9 November 2017 03:16 WIB Penulis: (Anastasia Arvirianty/I-1)

AFP PHOTO / Dibyangshu SARKAR

HARI itu panas terik, matahari sedang berada di posisi tinggi-tingginya di lokasi perkemahan pengungsi Rohingya, di Cox's Bazar, Bangladesh.
Suhu panas saat itu di sana betul-betul memanggang kulit. Tengah hari juga merupakan waktunya lambung di perut bergerak mengeluarkan suara-suara nyaring. Ya, suara lapar.

Di salah satu sudut Kamp Balukhali, seorang bocah Rohingya berusia paling tidak tiga tahun, Azizulhaq namanya, berjalan gontai keluar dari tenda berselimut terpal plastik. Tenda tersebut kini rumah baginya, rumah kumuh yang menjadi tempat bernaung sementara untuk mereka bertiga; dirinya, sang kakak, dan ibundanya.

Di mana sang ayah? Entah bagaimana kabarnya. Sebab, selagi mereka bertiga mengungsi keluar dari Rakhine Myanmar, ayah mereka tak ikut.
Tak tahu lagi bagaimana nasib ayahnya hari ini. Rasa lapar menyerang. Tentu saja, Azizulhaq ingin makan siang. Ia pun melangkah keluar menyusul kakaknya dan beberapa kawan mainnya yang sudah lebih dulu berjongkok di depan tenda kumuh mereka.

Rasa lapar bagi perut mungil Azizulhaq mungkin berkali-kali lipat dengan rasa lapar yang sering dirasakan bocah lain seusianya. Wajar saja, sudah sejak sore kemarin hingga pagi tadi, ia tak makan lauk apa pun. Begitu pun dengan sang ibu dan kakak. "Tidak ada lauk, kami tidak bikin makanan," kata ibu Azizulhaq.
Lantas, apa menu makan siang yang sedang disantap si bocah Rohingya bermata bulat itu? Hanya semangkuk nasi putih.

Tak lagi empuk, tak lagi panas. Mungkin nasi itu sudah dimasak sejak pagi hari, dengan panas api seadanya. Ada tungku darurat yang dibuat ibu Azizulhaq dengan bahan bakar kayu seadanya. Tungku pun sekadar dipasak di dalam tenda, tanah digali sejengkal untuk membuat tungku darurat. Di atas terpal plastik, Azizulhaq dan kakaknya menyantap nasi kering tanpa lauk sama sekali.

Sementara itu, sang ibu merebahkan diri di dekat mereka. Begitu kenyataan yang ada, nasib menjadi pengungsi, menjadi pelarian dari kampung halaman di Myanmar, memaksa bocah-bocah Rohingya lain seperti Azizulhaq tak bisa sekadar memenuhi gizi harian. Kondisi ini pula yang akhirnya memicu banyak gejala diare, sakit perut, dan demam dengan sebab-sebab yang tidak jelas.

Seperti yang dikatakan Rizal, salah satu anggota Tim Medis ACT dari Indonesia. "Kondisi kamp panas serta minim sirkulasi, pengap sekali. Air bersih sulit untuk memenuhi kebutuhan minum dan merebus makanan. Makanan sangat terbatas dan sulit memilih. Akhirnya berujung pada kasus diare dan sakit perut yang dirasakan banyak sekali anak-anak Rohingya," tutur Rizal, langsung dari Kamp Balukhali, Cox's Bazar.

Komentar