Internasional

Sekolah Diliburkan akibat Polusi

Kamis, 9 November 2017 01:15 WIB Penulis: Arv/I-4

AFP PHOTO / Sajjad HUSSAIN

PEMERINTAH India menutup semua sekolah dasar di Kota New Delhi karena tingkat polusi sudah berada di level yang mengkhawatirkan. Polusi di kota itu bertengger di level 70 kali dari posisi aman yang dianjurkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kondisi itu mendorong para dokter di ibu kota India mengeluarkan peringatan keadaan darurat untuk mengantisipasi dampak buruk terhadap kesehatan masyarakat setempat.

Saat ini jalan-jalan di New Delhi diselimuti kabut abu-abu tebal. Kota itu kini tercatat sebagai tempat yang paling tercemar di dunia. Pemandangan sehari-hari ialah para pejalan kaki dan pengendara sepeda motor me­ngenakan masker atau menutupi mulut serta hidung mereka dengan sapu tangan dan selendang.
Menurut situs kedutaan AS di New Delhi, Rabu (8/11) pagi, angka konsentrasi PM 2.5 untuk partikel mikroskopik yang paling merusak kesehatan telah mencapai 700.

Itu berarti levelnya 70 kali le­bih tinggi dari pedoman WHO. “Ketika saya datang ke Delhi pada 1984, udara di kota ini masih bersih. Tapi hari ini ketika saya berangkat jam 4 pa­gi untuk bekerja, hampir tidak dapat melihat apa pun,” kata Jeevanand Joshi, penjual teh pinggir jalan. Menurutnya, polusi yang menyelimuti New Delhi bukan kabut, melainkan asap. “Tentu saja asap seperti ini membuat kita sakit,” tambahnya.

Tingkat polusi yang sudah mengkhawatirkan juga diungkapkan Asosiasi Medis India. Lembaga itu mengumumkan keadaan darurat dan mende­sak administrator untuk menanggulanginya. Sementara itu, Otoritas Pen­cemaran Lingkungan memperingatkan bahwa dalam beberapa hari mendatang polusi di kota itu akan semakin memburuk.

Mengetahui hal itu, kemarahan masyarakat setempat mencuat. Pemerintah Kota New Delhi kemudian merespons dengan memerintahkan penutupan seluruh sekolah da­sar sejak Rabu (8/11). “Kami telah memutuskan untuk menutup sekolah selama satu hari dan akan mengevaluasi perkembangan situasi setiap jam untuk melihat apakah penutupan masih perlu dilakukan atau tidak,” kata Wa­kil Kepala Administrasi Delhi, Manish Sisodia.

Menurut data pemerintah, hampir 2 juta anak terdaftar sebagai siswa sekolah dasar di kota itu. Sebagai informasi, kota berpenduduk 20 juta jiwa itu memiliki reputasi sebagai tempat yang paling tercemar di dunia. Bahkan, sering kali melampaui Kota Beijing. Pada 2014, ketika WHO mem­peringatkan adanya krisis polusi di kota tersebut, pihak berwenang di Delhi merespons dengan menutup sementara pembangkit-pembangkit listrik. Selain itu, pemerintah se­tem­pat juga menyetop akti­vitas sejumlah mobil.

Namun, langkah itu hanya berdampak kecil. Menjelang musim dingin, kualitas udara di kota itu biasanya memburuk. Hal itu karena polutan ter­perangkap udara dingin. Uda­ra dingin mencegah polu­tan menyebar ke atmosfer atau dikenal sebagai inversi. (AFP/Arv/I-4)

Komentar