Jalan Tengah Muhammadiyah

Penulis: Media Indonesia Pada: Sabtu, 16 Feb 2019, 05:00 WIB Editorial MI

BERAGAMA yang mencerahkan. Demikian tema yang diangkat tanwir atau rapat kerja nasional Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun ini yang berlangsung di Bengkulu, kemarin. Tema itu mencerminkan keprihatinan Muhammadiyah sebagai salah satu ormas terbesar Indonesia berbasiskan agama Islam.

Semua agama tentu saja mencerahkan. Sejalan dengan ajaran agama, seperti yang dikemukakan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, potensi terbesar umat beragama ialah cinta damai, cinta toleransi, cinta membangun, dan cinta persaudaraan. Di situ pula letak kesamaan seluruh agama.

Sayangnya, segelintir penganut beragama memilih sikap ekstrem dengan menonjolkan perbedaan hingga menyampingkan potensi terbesar umat beragama tersebut. Tidak peduli bila pilihannya itu membuat perpecahan di masyarakat, bahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sudah terbukti, perilaku-perilaku ekstrem dalam beragama justru menghancurkan peradaban. Suatu hasil yang sungguh-sungguh jauh dari tujuan agama.

Orientasi politik yang mengeras justru menggoyahkan kesatuan dan persatuan bangsa. Akibatnya, satu sama lain mudah terbelah, berbenturan, dan bermusuhan secara berhadapan.

Dalam tema Beragama yang mencerahkan, Muhammadiyah ingin menghindarkan umat Islam di Indonesia dari sikap ekstrem yang menghancurkan itu. Islam dalam sejarahnya yang panjang banyak berperan membentuk peradaban tinggi dunia.

Penemu dasar ilmu kedokteran ialah seorang muslim. Pencetus aljabar, salah satu cabang matematika, merupakan penganut Islam. Ilmuwan-ilmuwan muslim menjadi perintis sekaligus disegani dalam perkembangan astronomi di masa lampau. Banyak lagi lainnya.

Di Indonesia, ormas-ormas Islam merupakan bagian integral pembentuk peradaban di Indonesia. Muhammadiyah yang berusia lebih dari seabad sudah banyak melahirkan tokoh nasional di berbagai bidang.

Muhammadiyah ikut merintis dunia pendidikan nasional yang merupakan akar peradaban bangsa. Tokoh perempuan Muhammadiyah dikenal sebagai pemrakarsa gerakan perempuan hingga lahirnya Kongres Perempuan Pertama pada 1928.

Semua peran tersebut dijalankan dengan memajukan semangat persatuan, bukan menonjol-nonjolkan perbedaan dan memaksakan kehendak. Mereka juga paham betul, tidak ada kemajuan yang berhasil dicapai dengan membenci dan menebarkannya.

Kebencian hanya akan menimbulkan perpecahan, sedangkan kemajuan memerlukan prasyarat mutlak, yaitu persatuan. Omong kosong bila ada orang berkoar-koar mengumbar janji memajukan bangsa ketika pada saat yang sama menebarkan bibit-bibit perpecahan.

Cinta damai, cinta toleransi, cinta membangun, dan cinta persaudaraan berperan sebagai perekat untuk menjaga persatuan bangsa. Ini yang hendak dimobilisasi Muhammadiyah. Dengan potensi rohani itu beragam suku, umat beragama, dan budaya, bisa tetap hidup berdampingan tanpa gesekan yang memecah belah. Keberagaman pun menjelma menjadi kekuatan.

Muhammadiyah sudah sangat piawai meletakkan dasar-dasar yang mendorong kemajuan Indonesia dengan spirit praktik keagamaan Islam yang tidak ekstrem alias moderat. Kepiawaian itu kita harapkan terus terjaga hingga ikut mengantarkan Indonesia menjadi negara maju dengan keadilan sosial yang merata.

Kita mengapresiasi Muhammadiyah yang konsisten menjalankan Islam wasatiyah atau Islam jalan tengah. Karena itulah, dalam menghadapi dinamika politik praktis, Muhammadiyah secara elegan tidak memainkan politik praktis, tapi mendorong kader-kadernya berkiprah di politik praktis.

Elok nian bila dalam menjalankan politik praktis itu semua pihak menampilkan sikap kenegarawanan. Sikap yang menampakkan jiwa besar untuk tidak mengoyak tenunan kebangsaan, berlapang hati menghadapi perbedaan, dan dewasa dalam berkontestasi.

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More