Melawan Teror di Jawa Tengah

Penulis: Media Indonesia Pada: Senin, 11 Feb 2019, 05:05 WIB Editorial MI

MENEBARKAN ketakutan ialah taktik utama terorisme. Ketakutan itu mesti dilawan, termasuk melawan rasa takut atas rentetan teror pembakaran kendaraan bermotor di Jawa Tengah.

Teror pembakaran kendaraan bermotor milik warga di Jawa Tengah dalam sebulan terakhir meluas ke empat daerah dengan 27 kejadian. Tujuh belas kasus di Kota Semarang, 8 kasus di Kendal, 1 kasus di Ungaran, dan 1 kasus lagi di Grobogan. Jangan sekali-kali lengah agar kasus itu tidak meluas ke daerah lain di Indonesia.

Motif pembakaran memang belum diketahui karena tidak seorang pun pelaku yang dapat ditangkap. Meski demikian, aksi itu pasti bertujuan menciptakan keresahan di tengah masyarakat. Keresahan di tahun politik bisa berdampak pada penilaian bahwa pemerintah tidak menghadirkan rasa aman kepada warga.

Pembakaran kendaraan itu terkonsep. Dilakukan secara acak dan sistematis. Hampir semua kejadian saat dini hari. Pelakunya mengendarai sepeda motor, menyiram atau melemparkan bahan bakar disertai kain (semacam bom molotov) ke kap mobil dan sepeda motor, lalu membakar dengan korek api batang.

Kendaraan bermotor yang dibakar itu beberapa di antaranya diparkir di tepi jalan, garasi rumah, atau teras rumah. Bahkan, ada kejadian yang terekam CCTV.

Meski terekam kamera pengintai dan warga sudah memberikan kesaksian, sejauh ini kepolisian masih menemui jalan buntu. Karena itulah, kepolisian sudah membentuk tim terpadu yang terdiri atas jajaran Badan Reserse Kriminal Polri, Detasemen Khusus 88 Antiteror, dan Badan Intelijen Keamanan Polri.

Jika kepolisian bersungguh-sungguh mengusut teror di Jawa Tengah, cepat atau lambat pelaku dapat ditangkap. Bukankah selama ini kepolisian sudah menoreh prestasi gemilang mengungkap kasus bom yang amat rumit dalam waktu singkat? Membiarkan misteri teror di Jawa Tengah berlama-lama diungkap bisa saja menggerus prestasi gemilang kepolisian selama ini.

Kita berharap, sangat berharap, kepolisian secepatnya menangkap pelaku dan menggali motif di balik aksi itu. Harus tegas dikatakan bahwa teror di Jawa Tengah tidak hanya menimbulkan kerugian secara materi, jauh lebih berbahaya ialah mempermainkan psikologi masyarakat. Orang dibuat geram, jengkel, dan curiga.

Kecemasan dan kepanikan yang terjadi di masyarakat akan memudahkan prasangka-prasangka sosial tumbuh dan menguat. Pada tahun politik, eksploitasi atas prasangka-prasangka itu bisa menemukan momentum. Yang perlu disadari bersama, teror yang terjadi pada tahun politik ialah teror yang paling memiliki risiko fatal.

Untuk itulah kita mendesak aparat berwenang agar secepatnya mengungkap kasus tersebut. Publik perlu tahu jenis kejahatan pada kasus-kasus pembakaran kendaraan itu. Hanya dengan menangkap pelaku dan mengungkap motifnya, kecemasan dan kecurigaan di tengah masyarakat bisa diredam.

Akan tetapi, alangkah tak eloknya bila penyelesaian teror di Jawa Tengah diserahkan sepenuhnya kepada kepolisian. Pemerintah daerah mestinya ikut bertanggung jawab dengan mengajak masyarakat melakukan kegiatan siskamling.

Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan siskamling justru memperlihatkan bahwa mereka tidak pernah takut. Pesan yang hendak disampaikan melalui aktivitas siskamling sangat tegas bahwa negara dan seluruh rakyat tidak pernah takut dan tidak akan pernah memberikan ruang sedikit pun pada terorisme dan juga upaya-upaya yang mengganggu keamanan.

Melawan ketakutan tentu saja menjadi energi positif bangsa di tahun politik. Jangan membiarkan pihak-pihak tertentu untuk mengail keuntungan elektoral dari rasa takut masyarakat. Teror pembakaran kendaraan bermotor di Jawa Tengah bisa saja disebut sebagai teror pemilu yang harus dilawan bersama-sama.

Berita Terkini

Read More

Poling

Debat perdana Pilpres 2019 menjadi ajang untuk menunjukkan impresi para kandidat Pasangan Calon Capres-Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Menurut Anda siapa yang unggul di debat perdana ini?





Berita Populer

Read More