Belajar Menyikapi Utang ala Malaysia

Penulis: Media Indonesia Pada: Selasa, 05 Jun 2018, 05:00 WIB Editorial MI

MALAYSIA dulu ialah murid 'guru Indonesia' yang mungkin paling tekun. Mereka belajar banyak hal dari negara tetangga mereka yang ketika itu masih unggul segala-galanya. Harus diakui, meski mungkin tak terlihat mata, ada peran sang guru dalam perjalanan dan perkembangan Malaysia hari ini. Itu fakta sekaligus romantisme sejarah yang akan terus dikenang.

Beberapa dekade setelah itu, faktanya mulai berbalik. Sang murid belajar cepat, sementara sang guru makin kepayahan karena beban pikiran dan tanggungannya kian memberat. Pada sejumlah hal, Malaysia saat ini bahkan lebih layak menjadi guru dan Indonesia sebagai murid. Salah satunya

saat ini ialah bagaimana Indonesia mesti belajar kepada Malaysia dalam merespons isu utang negara.

Soal utang ini, kondisi Malaysia memang cukup mengkhawatirkan. Mereka memiliki utang sebesar US$251 miliar atau sekitar 1 triliun ringgit atau kalau dirupiahkan setara Rp3.474 triliun. Nilai itu sangat besar. Apalagi jika dibandingkan dengan produk domestik bruto (PDB) Malaysia, rasio utang tersebut sudah mencapai 80%. Kalau utang itu dipasangi alarm, pasti sudah berbunyi nyaring.

Namun, di tengah besarnya utang itu, respons warganya sangatlah menginspirasi. Mereka rela urunan untuk bayar utang negara. Warga Malaysia percaya sekecil apa pun kontribusinya, mereka telah membantu negara lolos dari kesulitan. Ini sekaligus cara mereka dalam mengekspresikan rasa cinta terhadap bangsa dan tanah air.

Luar biasanya, menurut laporan BBC, dalam 24 jam saja metode pengumpulan uang bertajuk Malaysia Hope Fund yang diluncurkan pada 30 Mei itu telah mengumpulkan hampir US$2 juta (Rp27 miliar). Itu belum termasuk dana yang dapat dikumpulkan dari gerakan Please Help Malaysia yang digagas warga sipil. Sampai Minggu (3/5), gerakan yang memanfaatkan laman gogetfunding.com tersebut sudah mengoleksi US$3.643.

Sesungguhnya bukan besar nominal penggalangan iuran itu yang membuat kita di Indonesia mesti tersindir sekaligus terinspirasi. Hasil pengumpulan itu, sampai kapan pun, tetap tak seberapa bila dibandingkan dengan total utang pemerintah yang mesti dilunasi.

Kita tersentak karena untuk isu yang sesensitif ini ternyata warga Malaysia mampu kompak dan memperlihatkan respons yang tak hanya positif, tapi juga solutif. Kaum ekonom juga memuji gerakan itu sebagai bagian dari pencerdasan publik terutama generasi muda sehingga mendapat pemahaman yang komprehensif tentang utang negara.

Sementara itu, di Indonesia, isu utang malah digoreng-goreng, dipolitisasi, dan oleh sebagian pihak dipakai untuk menembak pemimpin yang sedang berkuasa. Bukannya bersama-sama berupaya menyelesaikan persoalan, hobi mereka malah menambah ruwet perkara.

Harus jujur kita katakan, utang luar negeri Indonesia memang besar. Jumlahnya pada akhir Februari 2018 mencapai US$356,2 miliar atau sekitar Rp4.897,7 triliun (kurs 13.700). Jumlah itu Rp1.400 triliun lebih besar ketimbang utang Malaysia. Akan tetapi, rasio utang terhadap PDB tak setinggi Malaysia. Rasio utang Indonesia 34,7%, sedangkan Malaysia sudah menyentuh 80%.

Karena itu, mesti diakui bahwa kondisi di Indonesia jauh dari kegawatan. Kita mungkin tak perlu sampai bikin gerakan urunan seperti yang dilakukan Malaysia atau yang pernah pula kita lakukan saat rupiah mulai anjlok menjelang krisis ekonomi menyerang pada 1997. Kita percaya pemerintah masih punya kemampuan membayar utang dengan baik.

Namun, bagaimanapun, fenomena yang dilakukan warga Malaysia mestinya bisa menginspirasi kita agar 'memperlakukan' utang sebagaimana mestinya. Ketimbang terus mengait-ngaitkan utang ke ranah politik, lebih baik kita bantu awasi pemerintah agar disiplin mengelola anggaran dan mengupayakan penggunaan utang hanya untuk mendanai program-program yang produktif.

Kalau muridnya saja bisa, kenapa gurunya tidak?

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More