Pancasila Titik Temu Perbedaan

Penulis: Media Indonesia Pada: Jumat, 01 Jun 2018, 05:05 WIB Editorial MI

Pancasila sebagai falsalah yang terpatri sejak bahkan sejak sebelum bangsa ini berdaulat ternyata tidak membuatnya bebas dari rongrongan, pengkhianatan dan pengingkaran. Ideologi-ideologi impor yang jelas-jelas bertabrakan dengan pancasila mulai merangsek ingin menggeser Pancasila.

Ancaman besar terhadap eksistensi Pancasila kini lewat merebaknya sikap intoleransi serta radikalisme yang melahirkan aksi-aksi terorisme. Bahkan sempat juga datang dari sebagian kecil anak bangsanya sendiri yang tergabung dalam organisasi Hizbut Tahrir Indonesia yang ingin mengganti Pancasila dengan paham khilafah.

Padahal, nilai-nilai Pancasila tidak hanya diakui di dalam negeri, tetapi juga di belahan dunia lain, Bahkan bisa dikatakan dunia internasional sangat iri dengan Indonesia dan Pancasilanya. Seperti Perdana Menteri India Narendra Modi saat diterima Presiden Jokowi di Istana Merdeka dua hari lalu, yang mengapresiasi Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

Menurutnya, Pancasila menjadi dasar hidup yang menyatukan seluruh rakyat Indonesia meski berbeda latar belakang, adat istiadat, agama, budaya, serta suku. "Di bawah filosofi Pancasila, antaragama, kepercayaan, adat serta tradisi terintegrasi satu dengan yang lain," ujar Modi.

Jika negara lain saja punya penghormatan besar terhadap pancasila, mestinya setiap anak bangsa ini sadar bahwa Pancasila merupakan komitmen kebangsaan dan konsensus bersama yang harus mengisi relung-relung kehidupan bangsa ini. Pendiri Republik ini menyepakati Pancasila sebagai falsafah bangsa.

Itulah sebabnya  menjadi berarti segala upaya untuk terus mengingat falsalah hidup bangsa ini pada setiap kelahirannya 1 Juni. Bukan untuk sekadar meryakn pertambahan umur, melainkan agar kita mengetahui esensi kelahiran dan penciptaannya untuk mengukuhkan lagi semangat Pancasila dalam jati diri bangsa.


Peringatan Hari Lahir Pancasila harus menjadi momentum demi memperkuat komitmen bangsa Indonesia untuk sungguh-sungguh mengimplementasikan Pancasila sebagai falsafah dan pendirian hidup bangsa.m, bukan sekadar ornamen teks kosong tanpa guna dan makna.

Agar Pancasila itu benar-benar hidup di masyarakat, nilai-nilainya diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Itu supaya spirit kejujuran dan keadilan yang menjadi bagian penting falsafah Pancasila tidak tergantikan oleh keserakahan yang berpadu dengan oportunisme akut.

Namun tentunya masyarakat butuh panutan atau teladan. Tidak mengherankan tuntutan penghayataan terhadap Pancasila lebih besar kepada para elit bangsa ini agar mereka mampu menjadi teladan dalam berucap, bersikap, bertindak.

Dengan menginternalisasikan Pancasila, para pejabat negara tidak korupsi, para tokoh agama tidak menebarkan kebencian dan intoleransi, serta dalam urusan politik para politisi tidak memainkan politik dagang sapi. Pancasila ke depan juga harus menjadi penawar terhadap polariasi dan segregasi sosial akibat merebaknya politik identitas.

Di masa mendatang upaya membumikan Pancasila jelas akan lebih berat karena generasi muda yang akan menopang bangsa ini minim memiliki memori tentang pancasila. Itu ajtara lain karena sejak 1998 mereka tidak lagi mendapat pelajaran formal di bangku-bangku sekolah tentang Pancasila.  Itulah sebabnya, menurut sejumlah penelitian, di sekolah-sekolah justru berkembang paham radikal.

Karena itu, penetapan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila melalui keputusan Presiden Joko Widodo sejatinya merupakan tonggak untuk mengembalikan ideologi negara tersebut kepada nilai penting saat dilahirkan. Nilai penting itu Ialah menarik seluruh elemen bangsa ini untuk menekuni kembali Pancasila sebagai ideologi bersama. Itu artinya Pancasila harus kita jadikan ideologi untuk mempertemukan berbagai perbedaan.

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More