Memangkas Kaderisasi Teroris

Penulis: Media Indonesia Pada: Kamis, 24 Mei 2018, 05:00 WIB Editorial MI

LAGI-LAGI terorisme unjuk diri sebagai ancaman superserius bagi kelangsungan hidup bangsa ini. Ia musuh besar yang harus dihadapi dengan tekad dan kemauan besar dari seluruh komponen bangsa tanpa terkecuali. Terorisme memang sudah lama menjadi parasit di negeri ini.

Namun, dari hari ke hari, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun, ia bukannya menipis, melainkan bertambah eksis. Sepak terjangnya pun kian sadis dan bengis. Kasus bom bunuh diri di Surabaya oleh satu keluarga dan aksi teror di beberapa tempat lainnya akhir-akhir ini menjadi bukti.

Harus kita sadari bahwa teroris masih ada di sekitar kita. Begitu banyak terduga teroris yang kemudian diringkus aparat menunjukkan bahwa ancaman mereka bisa datang setiap kala. Artinya, kepedulian dan kewaspadaan tingkat tinggi merupakan kemestian untuk menghadapi mereka.

Kita mendukung penuh langkah aparat yang gencar menangkap dan menindak para terduga teroris. Sebagai bagian dari rumpun tidak pidana, terorisme memang harus dihadapi dengan penegakan hukum. Memburu dan membongkar jaringan para penjahat kemanusiaan itu sudah seharusnya dilakukan sebagai reaksi atas aksi biadab mereka.

Namun, menegakkan hukum saja tidaklah cukup untuk memberangus terorisme. Meringkus, menembak mati, atau menghukum mati mereka sekadar ibarat memadamkan kebakaran, tetapi tidak menuntaskan persoalan. Artinya, selama sumber api tak dimatikan, teroris akan terus bermunculan.

Pada konteks itulah, tepat rasanya penegasan Presiden Joko Widodo bahwa penegakan hukum dan membongkar jaringan teroris hingga ke akar-akarnya harus diimbangi dengan pendekatan soft power. Menurut Presiden, deradikalisasi mutlak pula dioptimalkan bukan cuma buat mantan teroris, melainkan juga untuk membersihkan lembaga pendidikan di semua jenjang dan mimbar umum dari paham sesat terorisme.

Kita sepakat, amat sepakat, memberantas terorisme mustahil berhasil tanpa bicara pencegahan. Penindakan saat terjadi teror memang penting, tetapi mencegah agar aksi teror tidak terjadi tak kalah penting. Memberangus teroris memang keharusan, tetapi mematikan benih-benih teroris sebelum tumbuh dan bersemai juga keniscayaan.

Upaya untuk mencegah kaderisasi teroris pun semakin mendesak karena benih-benih mereka siap berbiak. Celakanya lagi, dunia pendidikan kita mulai taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi telah menjadi ladang bertumbuhnya benih-benih itu.

Hasil banyak survei memperlihatkan fenomena mencemaskan karena cikal bakal radikalisme mendapat tempat di sekolah-sekolah. Survei Setara Institute terhadap siswa SMA negeri di Bandung dan Jakarta pada 2015, misalnya, menunjukkan 8,5% siswa setuju dasar negara diganti dengan agama dan 9,8% mendukung gerakan Negara Islam di Irak dan Suriah.

Pun dengan survei LIPI pada 2016, 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak lagi relevan, serta 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan syariat Islam. Survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme pada 2017 juga menunjukkan 39% mahasiswa di 15 provinsi di Indonesia terindikasi tertarik pada paham radikal.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More