Editorial

Krisis Petani Muda

Kamis, 7 September 2017 05:01 WIB

IRONI memang akrab dengan Indonesia. Salah satu contoh yang paling nyata terjadi di sektor pertanian. Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris kini sedang risau karena gagal melakukan regenerasi petani. Penyegaran petani mandek.

Petani di Republik ini didominasi struktur usia tua dan lanjut lantaran anak-anak muda kini tak punya minat terjun ke sektor pertanian. Survei yang dilakukan seorang peneliti LIPI di sejumlah desa di Jawa Tengah pada awal tahun ini mungkin bisa menggambarkan betapa tua dan merananya nasib pertanian di masa mendatang.

Hasil survei tersebut menyatakan hampir tidak ada anak petani yang ingin menjadi petani. Hanya terdapat sekitar 4% pemuda usia 15-35 tahun yang bekerja dan berminat untuk menjadi petani. Sisanya sebagian besar tergiring industrialisasi.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman bulan lalu juga sempat memaparkan data bahwa setiap tahun negeri ini kehilangan rumah tangga petani sekitar 2% karena beralih profesi ke sektor lain. Lebih rumit lagi, dari jumlah petani yang ada, sekitar 65% sudah berusia di atas 45 tahun.

Alangkah rentanya pertanian kita. Jika kondisi ini terus dibiarkan, barangkali umur pertanian kita tinggal 20-25 tahun lagi. Target pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045 boleh jadi hanya akan menjadi mimpi kosong bila kerentaan terus dibiarkan.

Yang terjadi mungkin justru sebaliknya, pada tahun itu Indonesia bakal mengalami krisis pangan. Ironi itu juga yang kini tengah membuat resah Presiden Joko Widodo. Sindiran yang ia lemparkan pada Sidang Terbuka Dies Natalis Ke-54 IPB di Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB), kemarin, pun tak lepas dari kegelisahannya melihat masa depan pertanian di Indonesia.

Ia menyindir mengapa perguruan tinggi berbasis ilmu pertanian yang paling top di negeri ini justru banyak menghasilkan lulusan yang bekerja di perbankan dan bidang lain nonpertanian. "Lantas yang ingin jadi petani siapa?" tanya Jokowi dengan nada retorik.

Sindiran dan pertanyaan Presiden itu mewakili kegundahan masyarakat pada umumnya yang memang sudah sangat gamblang melihat begitu memprihatinkannya sektor pertanian kita karena ditinggalkan pelaku-pelaku mudanya.

Kampus sebetulnya diharapkan mampu membuat sektor pertanian punya daya tarik lagi, terutama bagi anak muda. Kampuslah yang mestinya menjadi lokomotif perubahan paradigma bahwa pertanian sejatinya merupakan sektor yang menjanjikan jika dikelola dengan sungguh-sungguh dan strategi yang tepat.

Dari kampus juga diharapkan berkembang riset-riset berkualitas untuk menghasilkan teknologi pertanian modern yang bisa meningkatkan produktivitas serta nilai tambah sektor agraris ini. Akan tetapi, pada saat yang sama, pemerintah juga perlu introspeksi bahwa pihaknya telah melalaikan sektor itu terlalu lama.

Krisis petani muda mungkin hanya satu dari banyak masalah di bidang pertanian. Lahan pertanian yang semakin tergerus oleh gelombang konversi lahan, terlalu berkutatnya pertanian kita di sektor budi daya dan melupakan proses agrobisnis, minimnya riset, serta panjangnya rantai distribusi, semuanya berkorelasi menciptakan krisis sektor pertanian.

Saatnya pemerintah segera menyetop itu semua. Jangan sampai kelambanan respons kita akan membuat Indonesia terperosok menjadi consumer country dalam memenuhi pangan penduduknya. Itu ialah seburuk-buruknya ironi.

Komentar