Editorial

Kukuh karena Kinerja

Senin, 7 August 2017 05:02 WIB

PEMILIHAN Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019 baru akan berlangsung dua tahun lagi. Meskipun demikian, dukungan terhadap Joko Widodo untuk dicalonkan kembali sebagai presiden pada pilpres mendatang terus berdatangan.

Akhir pekan lalu, dalam Rapat Pimpinan Nasional I Hanura di Kuta, Bali, partai itu mengumumkan secara resmi dukungan kepada Jokowi untuk dicalonkan kembali sebagai Presiden RI 2019-2024.

Meski deklarasi dukungan tersebut tidak mengejutkan, tetap saja hal itu merupakan suatu fenomena yang perlu kita garis bawahi.

Hanura, kita catat, jelas bukanlah partai pertama yang mendeklarasikan dukungan pencalonan yang oleh sebagian kalangan dinilai prematur. Sebelum Hanura, ada Partai Golkar, NasDem, dan PPP yang terlebih dahulu menyatakan hal sama. PDI Perjuangan dan PKB juga sangat mungkin akan menyatakan dukungan kepada Jokowi.

Sebagai sesama pendukung pemerintah, deklarasi dukungan partai-partai itu terhadap Jokowi dapat kita maknai sebagai sebuah bentuk pengakuan sekaligus apresiasi atas kinerja Jokowi selama memimpin Kabinet Kerja tiga tahun terakhir ini.

Deklarasi dukungan itu juga dapat dimaknai sebagai bentuk komitmen bahwa partai yang selama ini mendukung Jokowi masih akan tetap loyal bersamanya hingga perhelatan Pilpres 2019.

Diakui ataupun tidak, mengalirnya dukungan membuat posisi Jokowi sebagai calon presiden 2019-2024 semakin hari kian kukuh. Terlepas dari ada ataupun tidak adanya deklarasi dukungan itu, kita menilai popularitas Jokowi sebagai figur dapat dikatakan tidak ada yang mampu menyaingi.

Dengan ataupun tanpa survei, secara kasatmata, melalui kinerjanya publik jelas dapat menilai betapa Jokowi praktis masih merupakan satu-satunya nama yang 'terlalu' menonjol. Bisa dikatakan tak ada satu pun kandidat pesaing yang potensial untuk dijadikan sebagai pembanding.

Gejala semacam ini sebenarnya menguntungkan sekaligus membahayakan bagi Jokowi. Menguntungkan dalam arti Jokowi tidak memiliki atau setidaknya belum memiliki kandidat pesaing yang dapat menggoyahkan posisinya dalam Pilpres 2019.

Membahayakan dalam arti hal itu bisa membuat Jokowi terlena sehingga dapat membuatnya tidak bekerja sebaik-baiknya dan secermat-cermatnya untuk kepentingan rakyat. Jika itu yang terjadi, tidak mustahil Jokowi akan membuka ruang yang cukup bagi pesaingnya untuk masuk ke peta persaingan.

Karena itu, kita mengapresiasi sikap Jokowi yang menanggapi setiap deklarasi dukungan dengan bersahaja. Dalam berbagai kesempatan, misalnya, ia menyatakan dukungan dan pencalonan merupakan hak partai. Jokowi juga mengatakan dirinya belum memikirkan hal itu dan masih fokus menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan dalam pemerintahan.

Kita sangat sepakat dengan sikap Jokowi. Sangat tepat jika Presiden Jokowi tetap dan terus fokus bekerja, bekerja, dan bekerja seperti selama ini untuk semakin meningkatkan kinerja dan kepuasan publik. Dengan tingkat kepuasan publik yang tinggi, bukan hanya 'kawan', 'lawan' pun kelak akan mengakui dan menghormati bahwa periode lima tahun kepemimpinan berikutnya bagi Jokowi ialah sebuah kepatutan dan keniscayaan.

Komentar