Editorial

Di Balik Simpati kepada Basuki

Jum'at, 12 May 2017 05:01 WIB

KECINTAAN rakyat kepada pemimpin ialah sesuatu yang hidup. Cinta itu bisa terus tumbuh bahkan ketika sang pemimpin sudah tidak lagi berada di mimbarnya.
Cinta itu hanya bisa mati jika rakyat merasa dikhianati. Aksi simpatik yang kita lihat dua hari ini di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat, juga sebelumnya di Rumah Tahanan Cipinang, Balai Kota DKI, Yogyakarta, serta kota-kota lainnya, merupakan cinta rakyat yang terus tumbuh kepada Basuki Tjahaja Purnama.

Meski sang Gubernur DKI Jakarta itu tak menjabat lagi dan telah divonis dua tahun atas kasus penodaan agama, masyarakat masih setia kepadanya. Massa pendukung Basuki terus berdatangan dan tidak sedikit yang rela bermalam di sekitar Mako Brimob. Kemarin, Basuki bahkan sampai harus ikut mengimbau para pendukung itu untuk pulang. Melalui pengeras suara, ia juga menyampaikan kabar kondisinya.

Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri mengaku trenyuh melihat simpati rakyat. Kesetiaan masyarakat kepada Basuki memang menggetarkan. Aksi itu menyentil banyak hal tentang kepemimpinan dan kebangsaan kita. Aksi itu menjadi bukti bahwa kerja dan integritas akan menorehkan jejak dalam pada masyarakat. Hanya dengan hal yang serupa pemimpin pengganti Basuki-Djarot dapat meraih kecintaan serupa.

Aksi simpatik buat Basuki itu wajar dan manusiawi belaka. Oleh karena itu, kita mengecam bila ada kelompok yang dengan kekerasan mencoba menghalangi seperti yang terjadi di Yogyakarta, Rabu (10/5) malam. Di sisi lain, seperti yang bisa kita baca dari curahan warga di media sosial, banyak yang menangis untuk Basuki karena merasa satu diri. Lewat sosok Basuki, mereka yang mencintai keberagaman serta menginginkan perubahan birokrasi dan kultur korupsi merasa terelasi.

Mereka pun menitipkan mimpi dan angan kepada Basuki. Ketika sang pendobrak kini berada di balik jeruji, masyarakat pun merasa patah arang. Banyak yang kehilangan harapan, bahkan takut akan masa depan keberagaman. Pergantian kepemimpinan dengan segala dinamikanya, termasuk proses hukum serta aksi massa yang menyertainya, sangat wajar dalam politik.

Yang kurang ajar ialah bila syahwat meraih kepemimpinan atau kekuasaan ditempuh dengan keberagaman serta persatuan Indonesia sebagai taruhannya. Itu yang dikhawatirkan tengah terjadi di negara ini. Kekhawatiran yang wajar meski mungkin ada yang menilainya berlebihan. Barangkali kita lebih baik khawatir, kemudian melakukan sesuatu agar kekhawatiran itu tidak terjadi, daripada kita menganggap segalanya normal lalu kita tidak melakukan apa pun dan ternyata kekhawatiran itu terbukti kelak.

Menjadi tugas negara, para tokoh bangsa, dan kita semua untuk melakukan sesuatu agar kekhawatiran bahwa bangsa ini bakal terpecah karena tak pandai merawat keberagaman tak terbukti kelak. Aksi simpati buat Basuki semestinya dibaca sebagai ikhtiar melakukan sesuatu demi merawat Indonesia.

Komentar