Editorial

Pantang Kendur Diteror Koruptor

Rabu, 12 April 2017 05:01 WIB

KEKERASAN terhadap penyidik KPK Novel Baswedan jelas bukan persoalan ringan. Sangat mungkin teror itu erat kaitannya dengan posisi korban sebagai penyidik berbagai perkara korupsi. Artinya pula, bukan tak mungkin teror tersebut merupakan serangan balik dari para koruptor. Novel menjadi sasaran penyerangan dua orang tak dikenal saat ia berjalan pulang seusai salat Subuh berjemaah di masjid dekat rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, kemarin. Air keras yang sangat korosif dan biasa digunakan sebagai penghancur logam yang disiramkan pelaku melukai matanya. Akibatnya, Novel harus menjalani operasi untuk mengembalikan daya penglihatannya yang terganggu.

Bagi Novel, kekerasan tersebut bukan kali pertama. Secara fisik, ia pernah ditabrak mobil saat mengendarai sepeda motor dalam perjalanan menuju tempat kerjanya. Pun saat dia hendak membekuk Bupati Buol Amran Batalipu yang menjadi tersangka korupsi pada 2012. Secara nonfisik, Novel juga tak hanya sekali menjadi korban kriminalisasi. Oleh bekas insitusi tempatnya bernaung yakni Polri, dia pernah dijadikan tersangka dalam kasus yang sudah bertahun-tahun lewat.

Belum diketahui alasan pasti kenapa Novel menjadi incaran para penghobi kekerasan lantaran tak satu pun dari insiden-insiden itu yang diungkap tuntas. Namun, tak berlebihan jika publik beranggapan bahwa Novel diincar karena sepak terjangnya dalam mememerangi korupsi. Tak salah pula jika publik menyimpulkan bahwa serangan demi serangan terhadap Novel merupakan ulah koruptor melalui para operator lapangan mereka.

Harus kita akui, Novel merupakan salah satu penyidik terbaik KPK. Sulit dimungkiri, Novel menjadi musuh paling tangguh bagi para perampok uang negara. Dengan integritas dan idealisme yang begitu tinggi, Novel sudah kehilangan urat takut untuk menghajar koruptor, siapa pun dia. Novel yang saat itu berpangkat komisaris bahkan boleh dibilang 'keterlaluan' karena berani menindak jenderal bintang dua, Irjen Djoko Susilo, dalam perkara korupsi pengadaan simulator SIM. Dia pula yang saat ini memimpin satgas penyidikan kasus KTP elektronik yang menyeret nama-nama besar dan politisi tenar.

Apa pun latar belakangnya, aksi kekerasan terhadap Novel patut kita kutuk. Apalagi jika alasannya karena Novel terlalu bersemangat memberantas korupsi sehingga harus dihabisi, kita sama sekali pantang menoleransi. Menyerang Novel lantaran dia gigih memerangi korupsi sama saja menyerang KPK dan menyerang KPK sama saja menyerang negara.

Serangan terhadap Novel sekaligus menjadi penegasan bahwa koruptor tidak akan tinggal diam setelah ladang kejahatan mereka diacak-acak. Corruptor fight back betul-betul menjadi realitas setelah mereka terus disudutkan. Tak cuma lewat serangan politik tiada henti untuk membuat KPK lunglai, serangan fisik secara brutal mulai dikedepankan. Tak ada satu pun orang di Republik ini, kecuali koruptor, calon koruptor, dan kroni-kroninya, bisa menerima serangan terhadap para pendekar antikorupsi. Karena itu, seperti yang diinstruksikan Presiden Joko Widodo kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Polri mesti sigap mengusut dan secepatnya membekuk penyerang Novel Baswedan.

Kita yakin, sangat yakin, teror terhadap Novel tak lantas membuat nyali para pejuang antikorupsi di KPK tereduksi. Namun, kita juga harus memastikan mereka tidak sendirian. Negara harus betul-betul berada di belakang mereka, betul-betul melindungi mereka. Menangkap dan mengadili penyerang Novel merupakan salah satu bentuk perlindungan itu. Meringkus penyerang Novel selekas mungkin juga menjadi pesan yang jelas dan tegas bahwa bangsa ini tidak pernah takut dan tak pernah surut dalam memerangi koruptor.

Komentar